Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah akan melanjutkan impor minyak mentah dari Rusia. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, pihaknya bakal menyusun kontrak pembelian minyak jangka panjang dengan Rusia guna mengamankan pasokan domestik secara berkelanjutan.
Langkah tersebut diambil menyusul keberhasilan pengiriman tahap awal pasokan minyak dari Rusia ke Indonesia. Namun, Bahlil tak merinci berapa besar volume impor tahap pertama tersebut.
Bahlil menyebut, setelah pengiriman pertama rampung dilakukan, proses pengadaan minyak mentah tahap kedua dari Rusia saat ini tengah berjalan sesuai dengan mekanisme yang telah dirancang.
"Tahap pertama kan sudah. Nah, tahap dua lagi berjalan. Nanti kita bikin kontrak jangka panjang," ujarnya saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (5/8/2028).
Baca Juga: Kementerian ESDM Susun Formulasi Insentif Bioetanol, Akan Adopsi Mekanisme BPDPKS?
Bahlil mengatakan, pelaksanaan pengadaan impor minyak ini dilakukan secara langsung oleh negara dan bukan melalui skema korporasi oleh Pertamina.
Menurutnya, kehadiran negara secara langsung dalam proses pengadaan modal energi ini bertujuan untuk memastikan independensi serta kedaulatan penuh atas pasokan energi nasional tanpa adanya pengaruh maupun tekanan luar.
"Dan ingat ya, yang melakukan pengadaan itu bukan Pertamina ya, negara. Jadi negara, enggak boleh diintervensi oleh negara lain. Yang melakukan impor adalah negara. Setelah negara ambil, baru negara mau siapkan untuk kepentingan rakyat, bangsa, dan negara, itu urusan negara lah," kata Bahlil.
Bahlil menambahkan, kebijakan pengadaan komoditas energi ini berlandaskan pada prinsip politik luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif. Indonesia berkomitmen menjaga independensi dalam menentukan arah kebijakan pemenuhan kebutuhan energi dalam negeri tanpa batasan intervensi dari negara lain di tingkat internasional.
Sebelumnya beredar informasi bahwa minyak mentah asal Rusia telah memasuki Indonesia melalui Pelabuhan Lawe-Lawe di Kalimantan Timur. Kapal tanker berlabuh pada 29 Juni 2026 dengan mengangkut sebanyak 770.000 barel.
Sekadar mengingatkan, impor minyak mentah dari Rusia merupakan tindak lanjut dari kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo Subianto pada April 2026 lalu.
Bahlil menindaklanjuti melalui pertemuan dengan Menteri Energi Rusia Sergey Tsivilev pada 14 April 2026. Pertemuan tersebut membahas peluang konkret kerja sama energi, terutama kepastian pasokan minyak mentah (crude) dan Liquefied Petroleum Gas (LPG).
Pihak Rusia menyatakan kesiapan untuk mendukung ketahanan energi Indonesia, melalui suplai migas serta penyimpanan (storage). Kerja sama ini dijajaki melalui skema antar pemerintah Government to Government (G2G) maupun Business to Business (B2B).
Di sisi lain, pemerintah telah menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 26 Tahun 2026 tentang Pengadaan Minyak Bumi, BBM, dan/atau LPG untuk Ketahanan Energi Nasional. Beleid tersebut memungkinkan pemerintah membuka keran impor melalui Badan Layanan Umum (BLU) di bidang energi, yakni Lemigas.
Baca Juga: Bahlil Tegaskan Relaksasi Secara Terukur, Pengusaha Tambang Menunggu Kepastian RKAB
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
