INDUSTRI
Berita
Harga cengkeh melejit, produsen rokok terjepit

HARGA CENGKEH

Harga cengkeh melejit, produsen rokok terjepit


Telah dibaca sebanyak 2026 kali
Harga cengkeh melejit, produsen rokok terjepit

JAKARTA. Harga cengkeh yang masih meroket diprediksi bakal berdampak pada pengusaha rokok keretek lokal. Berdasarkan pantauan Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (Gappri), harga cengkeh di beberapa daerah menembus Rp 180.000 per kilogram (kg) untuk jenis cengkeh jawa dan Rp 280.000 per kg untuk jenis Manado. Harga ini naik tiga kali lipat dibandingkan awal tahun ini yang hanya berkisar Rp 60.000 per kg untuk cengkeh jawa, dan Rp 90.000 per kg untuk cengkeh Manado.

Hasan Aony Aziz, Kepala Hubungan Masyarakat Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (Gappri) mengatakan, melambungnya harga cengkeh tentu saja mempengaruhi kinerja produksi industri rokok kretek tanah air. "Selain tembakau, cengkeh merupakan bahan baku rokok yang tidak bisa ditinggalkan," ujar Hasan Kepada KONTAN (26/12).

Dari tiga jenis rokok yakni rokok keretek filter, rokok keretek non filter dan rokok putih filter, Hasan bilang jika kebutuhan cengkeh untuk rokok keretek filter berkisar 18%-20%, sedangkan untuk rokok keretek non filter membutuhkan lebih banyak sekitar 30%-35%. Padahal 97% industri rokok tanah air, menghasilkan rokok jenis keretek filter dan keretek non filter, sedangkan sisanya rokok putih filter.

Modal produsen naik

Kenaikan harga cengkeh ini juga bakal mendongkrak modal produsen rokok keretek hingga dua kali lipatnya. Di sisi lain, para produsen terutama skala kecil sering kali kesulitan mendapatkan suntikan modal baru. "Biaya produksi mereka meningkat, akibatnya beberapa produsen menurunkan volume produksinya," terang Hasan.

Dampak kenaikan harga cengkeh ini sudah dirasakan oleh pengusaha rokok keretek di beberapa daerah. Fendi Agus Sandrio, pemilik Pabrik Rokok Indokretek di Malang, Jawa Timur, mengaku harus merogoh dana pembelian cengkeh dua kali lipat lebih banyak ketimbang biasanya guna menopang usaha pembuatan rokok kereteknya.

Akibat melambungnya harga cengkeh tersebut, Fendi yang biasanya membeli cengkeh sebanyak 1 ton per bulan, sebagai bahan campuran rokok kereteknya. Kini, sejak harga cengkeh naik lebih dari 100%, ia hanya melakukan pembelian setengahnya. "Saya takut jika harus membeli banyak, permintaan pasar juga cenderung turun," keluhnya.

Faktor tingginya harga bahan baku dan cukai membuat produsen rokok keretek gulung tikar. Fendi menghitung, jika tiga tahun lalu produsen rokok keretek di Malang, Jawa Timur berkisar 350 perusahaan, kini tinggal setengahnya. Padahal dari total industri pembuatan rokok tersebut, 90% merupakan industri kecil dan menengah, dengan rata-rata mempekerjakan sekitar 100 orang.

Akibat tingginya harga cengkeh ini juga diakui oleh R Abdul Malik, pemilik UD. Putra Bintang Timur Malang, produsen rokok merek Sin Nashuha. "Naiknya harga cengkeh ini membuat keuntungan kami menurun," ujar Malik Saat dihubungi KONTAN (26/12).

Malik bilang jika saat harga cengkeh berada pada kondisi normal, keuntungan yang didapatkannya berkisar Rp 150 per bungkus, kini dengan naiknya harga ini keuntungan yang ia dapatkan hanya Rp 100 per bungkus.

Melihat produksi perkebunan cengkeh lokal bermasalah, baik Malik maupun Fendi berharap jika impor cengkeh tidak dibatasi. "Dengan demikian Harga Pokok Produksi (HPP), menjadi bisa ditekan," harap mereka. Pasalnya penentuan harga rokok didasarkan dari berbagai aspek, seperti cukai, pajak pertambahan nilai (PPN) dan bahan baku seperti tembakau dan cengkeh.

Sebagai catatan, untuk setiap batang rokok dikenakan biaya cukai senilai Rp 170, padahal tahun depan rencananya naik menjadi Rp 230 per batang. Sementara PPN untuk tiap bungkus rokok mencapai 8,4% dari banderol harga rokok setiap bungkusnya.

Telah dibaca sebanyak 2026 kali



Syarat & Ketentuan Komentar :
  1. Tidak memuat isi bohong, fitnah, sadis dan cabul.
  2. Tidak memuat isi yang mengandung prasangka dan kebencian terkait dengan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), serta menganjurkan tindakan kekerasan.
  3. Tidak memuat isi diskriminatif atas dasar perbedaan jenis kelamin dan bahasa, serta tidak merendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa, atau cacat jasmani.
  4. KONTAN memiliki kewenangan mutlak untuk mengedit atau menghapus komentar yang bertentangan dengan ketentuan ini.

LIPSUS

LIPSUS Update

  • Simak sektor mana saja yang prospektif!

    +

    Sejak awal tahun hingga 22 September 2014, saham-saham sektor perbankan memberikan return terbesar.

    Baca lebih detail..

  • Meramal gerak IHSG setelah rekor

    +

    Analis berbeda pendapat soal prospek kinerja IHSG ke depannya.

    Baca lebih detail..