: WIB    —   
indikator  I  

Hero Supermarket masih bisa teriak hore

Hero Supermarket masih bisa teriak hore

JAKARTA. Tahun lalu PT Hero Supermarket Tbk (HERO) belum bisa menorehkan pertumbuhan pendapatan positif. Peritel ini cuma mengantongi pendapatan Rp 13,7 triliun atau terpangkas 5% dibandingkan tahun 2015 yang mencapai Rp 14,35 triliun.

Kendati begitu, Hero justru sanggup menorehkan laba sekitar Rp 12 miliar tahun lalu. Padahal di 2015, perusahaan ini masih mengalami kerugian sebesar Rp 144,07 miliar.

Usut punya usut, penyebab lonjakan laba ini terjadi lantaran penjualan produk non makanan naik 15% menjadi Rp 1,98 triliun dibandingkan tahun 2015 yang sebesar Rp 1,72 triliun. Seperti produk perabot rumah tangga, produk kesehatan dan kecantikan. Padahal, tahun lalu, peritel ini sudah menutup sejumlah gerai Guardian, yang banyak menjajakan produk kesehatan dan kecantikan.

Menurut Stephane Deutsch, Presiden Direktur PT Hero Supermarket Tbk, justru adanya penutupan sejumlah gerai yang tidak menguntungkan menyebabkan laba operasional perusahaan ini melonjak menjadi Rp 176 miliar tahun lalu. Angka ini naik lebih dari empat kali lipat lebih dibandingkan tahun 2015 yang cuma Rp 37,77 miliar. "Selain itu juga ditopang dari lonjakan margin laba kotor," katanya, dalam rilis, Jumat (3/3).

Adanya lonjakan pendapatan nonmakanan menutup merosotnya penjualan produk makanan di periode tersebut, yakni turun 7% menjadi Rp 11,7 triliun ketimbang tahun 2015 yang tercatat Rp 12,62 triliun. Tapi, laba operasional di bisnis makanan justru tercatat mencapai Rp 91 miliar dari tahun lalu yang masih rugi Rp 68,04 miliar.

Rencana tambah gerai

Menurut Arief Istanto, Direktur Hero Supermarket, merosotnya penjualan produk makanan di Hero lantaran persaingan bisnis ritel semakin ketat. Seperti semakin pesatnya jaringan minimarket, yang kerap memberi program promosi untuk kebutuhan sehari-hari. "Pertumbuhan pasar ritel makanan mengalami perlambatan, berimbas pendapatan perusahaan ini jadi berkurang," katanya kepada KONTAN, Jumat (3/3).

Manajemen Hero Supermarket sendiri tidak berdiam diri. Agar tetap bisa bersaing, Hero menyediakan variasi produk segar yang lebih baik dibandingkan sebelumnya. Langkah lain adalah strategi penerapan harga dan efisiensi di rantai pemasok. Dan tentu saja Hero tak melupakan langkah promosi, seperti peritel lain.

Dari sisi ekspansi, Hero berencana menambah gerai anyar. Terutama untuk Giant Ekstra dan Hero (supermarket).

Natalia Lusnita, General Manager Corporate Communication Hero Supermarket, menambahkan, tahun ini, pipihaknya akan menambah sebanyak delapan gerai, baik itu untuk Hero Supermarket dan Giant. Tambahan gerai ini bakal dilakukan di sejumlah kota di Jakarta, Bandung dan kota lain di Jawa. "Kami juga akan menyasar wilayah timur, seperti Manado dan Makassar," ujar dia.

Sayang, manajemen perusahaan ini tidak merinci target bisnis yang dipatok sampai akhir tahun.

Adapun jumlah gerai Hero Supermarket per 31 Desember 2016 sebanyak 448 gerai, yang terdiri dari 55 Giant Ekstra, 147 Giant Ekspres dan Hero Supermarket, 245 Guardian dan 1 gerai furnitur IKEA. Jumlah tersebut terpangkas 162 gerai, lantaran adanya pemangkasan outlet Guardian dan divestasi pada bisnis Starmart.


Reporter Wahyu Satriani
Editor Dupla KS

RITEL

Feedback   ↑ x
Close [X]