kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.680.000   -30.000   -1,11%
  • USD/IDR 17.890   14,00   0,08%
  • IDX 6.330   62,48   1,00%
  • KOMPAS100 828   6,24   0,76%
  • LQ45 629   2,91   0,46%
  • ISSI 219   2,92   1,35%
  • IDX30 352   0,49   0,14%
  • IDXHIDIV20 427   -1,13   -0,26%
  • IDX80 95   0,69   0,73%
  • IDXV30 118   0,32   0,27%
  • IDXQ30 111   -0,13   -0,12%

Kebutuhan CPO tinggi, RI harus genjot produksi


Senin, 06 November 2017 / 19:56 WIB


Reporter: Abdul Basith | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kebutuhan yang tinggi akan minyak nabati untuk makanan membuat Indonesia sebagai produsen Crude Palm Oil (CPO) harus menggenjot produksi.

"Pasar untuk minyak lebih besar perkembangannya," ujar Ketua Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI), Sahat Sinaga akhir pekan lalu.

Sahat bilang dengan dihentikannya ekspansi lahan perkebunan sawit membuat produktivitas tidak bisa mengejar kebutuhan permintaan. Atasi hal tersebut, Sahat berpendapat selain program peremajaan terdapat dua hal untuk meningkatkan produksi.

Apabila pembatasan perluasan lahan dilakukan, Sahat bilang produksi biodiesel perlu dikorbankan untuk memenuhi kebutuhan minyak. Dikorbankannya biodiesel tersebut membuat minyak sawit mentah dapat digunakan untuk produksi minyak nabati untuk makanan.

"Kalau terjadi kebutuhan pesat sedangkan ekspansi tidak bisa, biodiesel harus dikorbankan," terang Sahat.

Produksi minyak nabati dunia diperkirakan akan turun. Hal tersebut juga terjadi pada stok yang semakin merosot.

Melihat hal itu Sahat berpendapat ekspansi perlu untuk dilakukan terutama bagi perkebunan sawit. Ekspansi sawit dianggap lebih efisien bila dibandingkan dengan bunga matahari maupun kedelai. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×