: WIB    —   
indikator  I  

Kebutuhan serat optik ditaksir 9 juta km

Kebutuhan serat optik ditaksir 9 juta km

JAKARTA. Seiring modernisasi jaringan operator telekomunikasi, permintaan kabel serat optik (optic fiber) semakin meningkat. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memproyeksikan kebutuhan optic fiber bisa mencapai 8 juta-9 juta kilometer (km) per tahun.

Pemerintah tengah mendorong beberapa proyek yang menggunakan serat optik seperti 36.000 km Palapa ring, kabel serat optik bawah laut. serta koneksi pita lebar (broadband) 70 juta rumah tangga untuk sambungan internet jenis fiber to the home (FTTH).

Ketua Umum Asosiasi Pabrik kabel Listrik Indonesia (Apkabel) Noval Jamalullail mengatakan, sebenarnya industri kabel di Indonesia sampai saat ini memiliki kapasitas produksi serat optik 9 juta kilometer per tahun.

Kata Noval, tahun ini, beberapa pabrikan optic fiber asal Korea dan China menyatakan minat untuk membangun pabriknya di Indonesia. “Kalau ada penambahan tersebut, saya optimis tahun ini produksi optic fiber bisa tembus 10 juta kilometer,” ujarnya, Selasa (18/4). 

Sampai saat ini produksi kabel serat optic dalam negeri belum sepenuhnya diserap oleh lokal. Noval mengatakan, produksi optic fiber lokal baru diserap pasar dalam negeri sekitar 50%. Ia mencontohkan, beberapa proyek jaringan telekomunikasi Telkom masih menggunakan optic fiber impor.

Saat ini, kendala optic fiber bisa terserap ialah terkait Standar Nasional Indonesia (SNI). Optic fiber sampai saat ini belum wajib SNI serta Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) belum semua terpenuhi. “Untuk itu kita mengusahakan soal SNI dan TKDN ini, kalau kabel listrik sudah wajib SNI harusnya optic fiber bisa juga,” sebut Noval. Ia meyakini bahwa pemerintah sudah implisitmenganjurkan SNI pada optic fiber ini.

Perkembangannya, saat ini, pabrik bahan baku untuk memproduksi optic fiber hanya mampu memenuhi kebutuhan dua pabrik untuk produksi optic fiber. Padahal, total pabrik yang memproduksi optic fiber sampai saat ini ada 10 pabrik.

Menurut Noval, nilai investasi pabrik serta optik tergantung skala produksinya. “Kalau dihitung satu lini mesin saja minimal Rp 10 miliar sampai ratusan tergantung jenis mesin produksi yang dipakai,” sebutnya. Nilai Investasi tersebut belum termasuk gedung, lahan dan biaya lainnya. Untuk pengadaan mesin tidak terlalu sulit, karena mechanical engine bisa didapat dari Taiwan dan China, tidak seperti dulu yang harus impor dari Eropa.


Reporter Agung Hidayat
Editor Dupla KS

MANUFAKTUR

Feedback   ↑ x
Close [X]