INDUSTRI
Berita
Kendala investasi otomotif Iran di Indonesia

PERSAINGAN INDUSTRI OTOMOTIF

Kendala investasi otomotif Iran di Indonesia


Telah dibaca sebanyak 1638 kali
Kendala investasi otomotif Iran di Indonesia

JAKARTA. Niat Iran berinvestasi pada sektor otomotif di Indonesia terganjal kendala status perusahaan. Negara yang telah memproduksi 1,5 juta unit per tahun itu berencana memproduksi mobil dengan merek D-8.

Dirjen Kerja Sama Industri Internasional Kementerian Perindustrian Agus Tjahajana menjelaskan, perbedaan kepemilikan antara kendaraan Iran yang dipegang oleh badan usaha milik negara (BUMN) dan sektor otomotif Indonesia yang dimiliki swasta itu menjadi kendala yang menyulitkan rencana kerja sama Iran di Indonesia.

Kesulitan terlihat ketika kedua belah pihak berniat mendirikan perusahaan patungan. Perbedaan status itu akan menyulitkan pengembangan perusahaan patungan karena adanya ego sektoral dari masing-masing pihak. Artinya, BUMN akan membawa suara pemerintah, sedangkan swasta akan menyuarakan keinginan pribadi untuk mencari untung.

Pada pembahasan rencana investasi negara anggota D-8 (organisasi negara berkembang), kata Agus, masing-masing negara menyampaikan rencana investasi pada sektor otomotif. Negara lain mewakili suara pemerintahnya untuk berinvestasi pada sektor otomotif, sedangkan Indonesia membawa aspirasi dunia usaha otomotif domestik yang dikuasai swasta.

Saat ini, Indonesia memiliki posisi yang kuat pada sektor otomotif, tapi masih sebatas agen tunggal pemegang merek (ATPM). Di antara negara anggota D-8, Turki, Indonesia, Malaysia, dan Iran memang memegang dominasi kuat pada sektor otomotif. Oleh karena itu, kedua belah pihak berencana melakukan pembahasan lanjutan untuk menemukan solusi pada kendala tersebut.

Menteri Perindustrian M.S. Hidayat pernah menjanjikan, bakal menarik investasi dari negara D-8 yang meliputi Mesir, Pakistan, Malaysia, Bangladesh, Iran, Nigeria, Turki, dan Indonesia. Sektor industri yang dianggap potensial meliputi otomotif, elektronik, komponen ban, dan produk tekstil.

Nantinya, dia mengharapkan, pelaku usaha dalam negeri dapat meningkatkan penjualan produknya di negara anggota D-8. Apalagi total populasi ketujuh negara itu mencapai 1,1 miliar jiwa.

Sementara itu, Ketua Komite Tetap Peningkatan Produktivitas Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Gunadi Sindhuwinata pernah mengutarakan, peluang pengiriman kendaraan bermotor khusus mobil menuju negara anggota D-8 terbilang besar. Peluangnya bahkan melebihi kendaraan roda dua.

Alasannya, tidak semua negara anggota D-8 memproduksi mobil sehingga kendaraan produksi dalam negeri berpeluang meraih pasar ekspor di negara tersebut.

Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menyebut, kemampuan produksi industri otomotif dalam negeri mencapai 870.000 unit. Selama ini, untuk diketahui, ekspor mobil mencapai 20% dari total produksi dengan tingkat kandungan dalam negeri mencapai 76%. Produksi dalam negeri itu telah menyentuh pasar ekspor di 88 negara.

Meski demikian, Indonesia harus meningkatkan kapasitas produksi dalam negeri. Sebab, telah banyak pasar ekspor yang ternyata mendapat pasokan kendaraan dari negara lain. Misalnya, Nigeria yang sudah dilayani melalui Mesir.

Editor: Djumyati Partawidjaja
Telah dibaca sebanyak 1638 kali



Syarat & Ketentuan Komentar :
  1. Tidak memuat isi bohong, fitnah, sadis dan cabul.
  2. Tidak memuat isi yang mengandung prasangka dan kebencian terkait dengan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), serta menganjurkan tindakan kekerasan.
  3. Tidak memuat isi diskriminatif atas dasar perbedaan jenis kelamin dan bahasa, serta tidak merendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa, atau cacat jasmani.
  4. KONTAN memiliki kewenangan mutlak untuk mengedit atau menghapus komentar yang bertentangan dengan ketentuan ini.

LIPSUS

LIPSUS Update

  • Ada ratusan produk, pilih mana?

    +

    Ada sekitar 850 produk reksadana beredar saat ini. Pilihlah yang sesuai dengan gaya investasimu

    Baca lebih detail..

  • Menimbang return reksdana dan investasi lain

    +

    Return reksadana memang ciamik sepanjang tahun ini. Tapi, belakangan muncul gejolak di pasar. Apakah lebih baik mengamankan aset di instrumen aman seperti deposito, atau emas yang harganya sekarang lebih murah?

    Baca lebih detail..