: WIB    —   
indikator  I  

Korporasi Indonesia agresif belanja satelit

Korporasi Indonesia agresif belanja satelit

JAKARTA. Era digital memicu perusahaan berlomba menyediakan infrastruktur telekomunikasi dan informasi. Baik itu lewat jaringan kabel optik, menara telekomunikasi hingga layanan jasa satelit. Khusus yang terakhir ini, tidak cuma perusahaan telekomunikasi dan televisi yang memiliki dan membeli satelit.

Hingga kini di Indonesia baru ada tujuh satelit yang mengudara. Yang baru-baru ini meluncur adalah Telkom-3S milik PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) dan BRI Sat dari Bank Rakyat Indonesia. Total jenderal, belanja tujuh satelit itu mencapai US$ 1,44 miliar. Angka ini setara Rp 19,15 triliun (patokan kurs Rp 13.300 per dollar AS) (lihat tabel).

Tak mau ketinggalan, PT Indosat Tbk (ISAT) yang sudah mempunyai lisensi orbit di satelit Palapa D, meneken perjanjian dengan PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN). Kerjasama ini berbentuk urun modal untuk pembelian satelit dari China Great Wall Industry Corporation.

Kedua perusahaan ini meneken kemitraan atau joint venture dengan porsi kepemilikan justru lebih besar di PSN sebesar 65%, dan 35% porsi Indosat. Bila nilai pembelian satelit itu sebesar US$ 230 juta, kedua perusahaan ini berkontribusi sesuai dengan komposisi sahamnya.

Menurut Adi Rahman Adiwoso, Chief Executive Officer Pasifik Satelit Nusantara, kerjasama tersebut bisa memberi layanan telekomunikasi di seluruh Indonesia. "Di samping bisa membuat cost lebih rendah," katanya usai penekenan kerjasama tersebut, Rabu (17/5).

Sayang, Adi tidak merinci soal target bisnis kerjasama tersebut. Yang jelas, dengan kerjasama tersebut, sejauh ini PSN sudah berinvestasi total US$ 450 juta di bidang telekomunikasi.

Menurut Alexander Rusli, Presiden Direktur Indosat, meski PSN memegang kendali dari sisi permodalan, pihaknya tetap sebagai pengelola satelit tersebut. Sebab satelit tersebut sebagai pengganti Satelit Palapa D yang habis masa orbitnya pada tahun 2020 nanti. Satelit tersebut memiliki 40 transponder. "Setelah satelit lama habis bensin, datang satelit pengganti, dan pelanggan kami tetap tenang," terang Alex.

Sayang, Alex tidak merinci jumlah transponder dari satelit terbaru tersebut. Begitu pula mengenai target bisnis dari kerjasama tersebut.

Kongsi ini mendapat sorotan Anggota Ombuds-man Republik Indonesia Alamsjah Saragih. Menurut dia, kerjasama dua perusahaan itu menunjukkan lemahnya pemerintah menjaga slot orbit satelit. Bila dari sisi modal Indosat tidak sanggup mengisi slot tersebut, slot itu sebaiknya kembalikan ke negara. "Jadi bukan bekerjasama dengan swasta atau badan usaha milik negara (BUMN)" katanya ke KONTAN, Rabu (17/5).

Pemain lain, Telkom memiliki tiga satelit yang masih mengudara, untuk melayani kebutuhan perusahaan ini. Menurut Arif Wibowo, Vice President Corporate Communication Telkom, satelit Telkom termasuk strategis. Satelit tersebut menjadi tulang punggung anak usahanya, Telkomsel, terutama dalam layanan data.


Reporter Agung Hidayat, M. Ghiffari L. Alif P.
Editor Rizki Caturini

TELEKOMUNIKASI

Feedback   ↑ x
Close [X]