INDUSTRI
Berita
Malindo mulai bermain di bisnis makanan olahan

Ekspansi Usaha

Malindo mulai bermain di bisnis makanan olahan


Telah dibaca sebanyak 3914 kali
Malindo mulai bermain di bisnis makanan olahan

JAKARTA. PT Malindo Feedmill Tbk (MAIN) mulai memproduksi makanan olahan seperti chicken nugget dan sosis di awal tahun ini. Malindo merambah bisnis makanan karena melihat potensi pertumbuhan konsumsi makanan berbasis  daging ayam di Indonesia cenderung meningkat setiap tahun.

Rudy Hartono, Sekretaris Perusahaan Malindo, mengatakan, divisi makanan olahan bisa beroperasi bulan ini. Malindo mengusung merek Sunny Gold untuk makanan olahannya. "Setelah mendapatkan izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan, kami siap berproduksi," kata Rudy kepada KONTAN, kemarin.

Malindo membangun pabrik makanan olahan di Cikarang, Bekasi, tahun 2011. Untuk menjalankan bisnis baru ini, Malindo membentuk anak usaha yaitu PT Malindo Food Delight. Pengembangan Malindo Food Delight dan pembangunan pabrik baru ini menelan investasi Rp 110 miliar.

Pabrik makanan olahan Malindo berkapasitas produksi hingga 9.000 ton per tahun. "Produksi di awal masih kecil, baru beberapa ribu ton," tutur Rudy tanpa mau merinci. Tentu saja, Malindo juga akan merilis beberapa varian produk makanan olahan.

Rudy menambahkan, produk Sunny Gold siap dipasarkan pada akhir kuartal I atau awal kuartal II-2013. Malindo akan mendistribusikan Sunny Gold ke pasar modern maupun pasar tradisional di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Yogyakarta. "Awalnya di Jawa, tapi akan meluas karena kami punya wilayah operasional di Sumatra dan Sulawesi. Target akhirnya di seluruh Indonesia," ungkap Rudy.

Manajemen Malindo menargetkan kontribusi lini usaha baru ini dalam lima tahun ke depan mencapai 5%-10% total pendapatan perusahaan. Apalagi, mereka yakin, bisnis makanan olahan ini memiliki margin tinggi. "Dalam ukuran divisi yang kami miliki saat ini, margin pengolahan makanan termasuk tinggi," tutur Rudy. Ketika sudah melewati break even point (BEP), kata dia, gross profit margin dari bisnis pengolahan makanan bisa di atas 20%.

Malindo perlu ekspansi ke bisnis makanan olahan demi sinergi dengan unit bisnis lainnya. Sebab, pasokan bahan baku untuk makanan olahan ini diperoleh dari unit usaha Malindo yang lain. Untuk itu, Malindo akan membangun lima peternakan  baru bagi ayam pedaging di tahun ini. "Kami mencadangkan investasi sekitar Rp 70 miliar untuk lima peternakan itu," tutur Rudy.

Dengan tambahan peternakan baru, produksi ayam pedaging Malindo bisa naik 30% dari saat ini. "Kami memang berencana ekspansi peternakan
ayam pedaging untuk bahan baku makanan olahan kami," imbuh Rudy.

Saat ini Malindo mampu memproduksi ayam sekitar 20 juta kilogram per tahun. Perusahaan ini juga akan menambah produksi pakan ternak dan ayam umur sehari atau day old chicken (DOC).

Namun, dengan berbagai ekspansi tersebut, manajemen Malindo belum berani mengungkap target pendapatan dan laba di tahun ini. "Meski sudah ada divisi baru, kami memperkirakan komposisi pendapatan tidak akan jauh berbeda dari tahun lalu," ungkap Rudy.

Sebagai gambaran, pendapatan dan laba bersih Malindo selama 2012 diproyeksikan tumbuh 20%-25% dibanding pendapatan dan laba bersih tahun 2011 yang masing-masing senilai Rp 2,63 triliun dan Rp 204,97 miliar. Ini berarti pendapatan dan laba bersih Malindo selama 2012 masing-masing maksimal Rp 3,29 triliun dan Rp 256,21 miliar. "Target 2012 sudah tercapai bahkan melampaui target awal," tutur dia.

Editor: Sandy Baskoro
Telah dibaca sebanyak 3914 kali



Syarat & Ketentuan Komentar :
  1. Tidak memuat isi bohong, fitnah, sadis dan cabul.
  2. Tidak memuat isi yang mengandung prasangka dan kebencian terkait dengan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), serta menganjurkan tindakan kekerasan.
  3. Tidak memuat isi diskriminatif atas dasar perbedaan jenis kelamin dan bahasa, serta tidak merendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa, atau cacat jasmani.
  4. KONTAN memiliki kewenangan mutlak untuk mengedit atau menghapus komentar yang bertentangan dengan ketentuan ini.

LIPSUS

LIPSUS Update

  • Risiko berbeda, premi tiap daerah seharusnya berbeda juga

    +

    Dalam uji coba pertama, Jasindo mengkover 600 hektare (ha) lahan dengan biaya premi Rp 100 juta.

    Baca lebih detail..

  • Agar sukses, perlu insentif bagi penyuluh lapangan

    +

    Program asuransi pertanian menjadi salah satu upaya pemerintah untuk melindungi petani dari efek perubahan iklim. Hanya saja masih banyak kekurangan yang ditemui, seperti kurangnya sosialisasi dan tidak adanya insentif bagi penyuluh pertanian lapa

    Baca lebih detail..