INDUSTRI
Berita
Matahari bikin minimarket BigMart

EKSPANSI RITEL

Matahari bikin minimarket BigMart


Telah dibaca sebanyak 2378 kali
Matahari bikin minimarket BigMart

JAKARTA. Terhitung sejak awal Agustus ini, PT Matahari Putra Prima Tbk mulai masuk ke bisnis minimarket. Perusahaan berkode saham MPPA ini merambah pasar minimarket dengan mengusung bendera BigMart.

Direktur Komunikasi Perusahaan Matahari Putra Prima Danny Kojongian menyebut, sejauh ini, ada dua gerai BigMart yang berdiri Bogor. "Keputusan untuk masuk ke bisnis minimarket kami tempuh setelah mendivestasi Matahari Department Store pada 2010 silam," ujarnya, beberapa waktu lalu.

Chief Operation Officer (COO) Matahari Putra Prima Emi Nuel menambahkan, membuka minimarket merupakan bagian dari ambisi perusahaan menjadi peritel multi format nomor satu di Indonesia. Sebelumnya, perusahaan juga sudah mengoperasikan hipermarket bertajuk Hypermart, supermarket Foodmart, serta specialty store Boston.

Kata Emi, BigMart bisa menjadi trend setter minimarket lantaran jumlah produknya dua kali lipat minimarket lain. Selain itu, BigMart juga menyediakan makanan segar dan makanan beku.

"Pengelolaan BigMart sepenuhnya di bawah unit usaha MPP, yaitu Matahari Food Bisnis. Ini masih pilot project, sehingga kami belum bisa membeberkan rencana ke depan," kata Corporate Communication Manager MPP, Fernando Repi.

Nah, wilayah Bogor sengaja dipilih sebagai lokasi gerai perdana, mengingat Jakarta masih sibuk dengan penataan dan penertiban minimarket, pasca dicabutnya moratorium pada awal tahun ini. Gerai pertama berdiri di Jalan Dr Semeru, Kota Bogor, menyusul gerai kedua di Jalan Ciomas, Kabupaten Bogor.

Perseroan harus menyiapkan lahan seluas 200 meter persegi (m²) dengan investasi Rp 1 miliar untuk membuka satu gerai BigMart. Sebagai perbandingan, luas lahan untuk gerai hipermarket mencapai 4.000 m² dengan investasi Rp 20 miliar, sedangkan supermarket 1.500 m² dengan besaran investasi Rp 9 miliar.

Sekedar gambaran, sejak dibuka, BigMart di Jalan Dr Semeru transaksi penjualan rata-rata mencapai Rp 15 juta per hari, sedangkan gerai di Jalan Ciomas Rp 20 juta per hari. Menurut Emi, penjualan tersebut sudah sesuai standar.

Fokus bisnis FMCG

Namun, Emi mengaku, pihaknya masih butuh waktu evaluasi paling lama setahun sebelum memutuskan pengembangan lebih lanjut minimarket. "Sebelum evaluasi, kami tidak akan menambah gerai BigMart dulu," ujar Emi.

Pengembangan bisnis minimarket mungkin menjadi salah satu strategi baru perusahaan untuk fokus ke bisnis inti di bidang fast moving consumer goods (FMCG).

MPPA memang berencana fokus ke bisnis FMCG, setelah nanti melepas aset dan bisnis non inti, seperti Timezone, Times Bookstore. Selain lebih ramping, kinerja perusahaan berpotensi meningkat karena perseroan bakal lebih fokus.

Selama ini, bisnis FMCG memang masih menjadi andalan pendapatan MPPA, yaitu melalui bendera Hypermat, Foodmart, dan Boston. Hypermart menyumbang hingga 95% terhadap total penjualanperusahaan, sedangkan 5% sisanya berasal dari gerai lain.

Hingga akhir Juli, perseroan tercatat sudah memiliki 72 gerai Hypermart, 26 gerai Foodmart, dan 58 Boston.

Kata Repi, khusus Hypermart, ke depan, pihaknya bakal lebih membidik pengembangan di luar Jawa, terutama Indonesia bagian timur. Pasalnya, potensi di sana cukup besar, dan bisa dimasuki dengan mendirikan gerai Hypermart jenis compact yang ukurannya lebih kecil dibanding Hypermart biasa, yaitu hanya berkisar 3.500-4.500 m².

Saat ini, dari total 72 gerai, tercatat 46 gerai (64%) berdiri di Pulau Jawa, sementara di luar Jawa 26 gerai (36%). Persentase jumlah gerai di luar Jawa meningkat dibanding akhir tahun lalu, di mana hanya terdapat 21 gerai (33%), sedangkan di Pulau Jawa mencapai 42 gerai (67%).

Jika pembangunan delapan gerai Hypermart lagi hingga akhir 2012 terealisasi, maka jumlah gerai di luar Jawa bakal mencapai 33 gerai (45,8%).

Danny memperkirakan, hingga akhir semester satu 2012, perusahaan mengantongi penjualan Rp 6 triliun, naik 45% dari periode yang sama tahun lalu. Adapun, sepanjang 2012, MPPA mengincar penjualan sebesar Rp 11,28 triliun, naik 20% dibanding realisasi tahun lalu.

Editor: Dupla KS
Telah dibaca sebanyak 2378 kali



Syarat & Ketentuan Komentar :
  1. Tidak memuat isi bohong, fitnah, sadis dan cabul.
  2. Tidak memuat isi yang mengandung prasangka dan kebencian terkait dengan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), serta menganjurkan tindakan kekerasan.
  3. Tidak memuat isi diskriminatif atas dasar perbedaan jenis kelamin dan bahasa, serta tidak merendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa, atau cacat jasmani.
  4. KONTAN memiliki kewenangan mutlak untuk mengedit atau menghapus komentar yang bertentangan dengan ketentuan ini.

LIPSUS

LIPSUS Update

  • Risiko berbeda, premi tiap daerah seharusnya berbeda juga

    +

    Dalam uji coba pertama, Jasindo mengkover 600 hektare (ha) lahan dengan biaya premi Rp 100 juta.

    Baca lebih detail..

  • Agar sukses, perlu insentif bagi penyuluh lapangan

    +

    Program asuransi pertanian menjadi salah satu upaya pemerintah untuk melindungi petani dari efek perubahan iklim. Hanya saja masih banyak kekurangan yang ditemui, seperti kurangnya sosialisasi dan tidak adanya insentif bagi penyuluh pertanian lapa

    Baca lebih detail..