: WIB    —   
indikator  I  

Menjadi sales? Siapa takut!!

Menjadi sales? Siapa takut!!

JAKARTA. Jika ditanya, apa cita-cita idaman setiap orang. Jawaban yang paling sering terdengar adalah dokter, insinyur, bankir maupun pengacara.
Bagaimana dengan pekerjaan sales? "Ini adalah pilihan terakhir, jika pekerjaan idaman tidak tercapai," ungkap Tanadi Santoso, pendiri PT Sandika Darsa Lentera Raya, pemegang master franchise Sandler Training, sales training provider asal Amerika Serikat.

Orang bahkan lebih tertarik bekerja sebagai staf administrasi ketimbang menjadi sales. Tanadi mencontohkan, sebuah perusahaan di Jawa Tengah membuka lowongan untuk posisi staf administrasi dan posisi sales. Ratusan orang melamar untuk posisi staf administrasi, padahal yang diterima bisa dihitung dengan jari. Sedangkan berkas permohonan pekerjaan yang masuk untuk sales jauh lebih sedikit dibandingkan pelamar yang mengincar posisi staf administrasi.

Sejatinya, pekerjaan sales bak kacang goreng. Boleh jadi, setiap perusahaan paling sering membuka lowongan pekerjaan untuk posisi sales. Namun, tingkat masuk keluar karyawan alias turnover di pekerjaan ini cukup tinggi.

Robert Saputra, Direktur Sandika Darsa, menyebutkan pekerjaan sales kerap dipandang rendah lantaran cara si penjual yang terlalu agresif, kurang ksatria dan sering 'menipu'. Hal ini menyebabkan pelanggan tak lagi percaya kepada sales. Padahal, "Sales sebenarnya pekerjaan yang sangat menjanjikan dan terhormat," ungkap Robert dalam acara pembukaan Sandler Training Indonesia di Jakarta, Rabu (14/11) lalu.

Posisi sales sangat penting bagi perusahaan. Sukses tidaknya perusahaan tentu akan bergantung pada sukses tidaknya divisi penjualan, yang di dalamnya berhimpun para sales.

Agar posisi sales tak dipandang sebelah mata, maka pemilik dan manajemen perusahaan perlu membenahi metode dan cara penjualan. Robert mengklaim, Sandler Training Indonesia menawarkan konsep pelatihan yang berbeda dengan lembaga sales-training yang lain.

Pembeda itu adalah program penguatan atau reinforcement. Ini adalah pendekatan semi-coaching yang mengubah pengetahuan menjadi sikap,
perilaku serta teknik menjual yang efektif.

Jika lembaga sales-training yang lain hanya memberikan pengetahuan dan motivasi yang cepat luntur dalam waktu singkat, Sandler Training menjamin memberikan pelatihan dan bimbingan secara berkala.

Program andalan Sandler Training adalah President's Club. Tersedia kelas publik yang cocok bagi para pemilik perusahaan, sales manager, dan sales executive. President's Club adalah program berkelanjutan, yakni tiga jam setiap minggu selama enam bulan. Peserta President's Club dikenai biaya senilai Rp 18 juta per orang. Selain mendapatkan materi pelatihan, harga ini sudah termasuk buku panduan Sandler Training.

Sandler Training juga menawarkan program in-house training. Ini adalah program pelatihan sales secara spesifik sesuai kebutuhan perusahaan.

Selain Indonesia, Sandler Training sudah lebih dulu hadir di 28 negara, antara lain Australia, Belgia, China, Belanda, Jerman, Yunani, Hong Kong, Irlandia, Inggris serta Turki.

Perusahaan yang menjadi klien Sandler Training Global bergerak di bidang perbankan, asuransi, kesehatan, telekomunikasi serta teknologi informasi. Mereka antara lain Bank of America, Prudential, Hewlett Packard serta AT&T.


Reporter Sandy Baskoro
Editor Sandy Baskoro

Marketing

Feedback   ↑ x