Reporter: Vina Elvira | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar perkantoran di kawasan central business district (CBD) Jakarta mulai menunjukkan pemulihan pada 2025. Hal ini ditandai dengan adanya kenaikan permintaan dan perbagikan tingkat hunian, terutama di kelas kantor premium.
Head of Research JLL Indonesia, James Taylor, mengungkapkan pasar perkantoran Jakarta sempat mengalami tekanan akibat lonjakan pasokan dalam beberapa tahun terakhir.
Namun, pemulihan mulai terjadi pada 2025, di mana permintaan bersih kumulatif untuk semua kelas perkantoran tercatat mencapai 80.289 m2, naik signifikan dari tahun sebelumnya.
Baca Juga: Sebanyak 390 Ribu Pelanggan Manfaatkan Program Elektrifikasi Sektor Primer PLN
Menurut dia, permintaan tersebut berasal dari berbagai sektor, mulai dari grup lokal dan perusahaan internasional, hingga sektor keuangan dan teknologi. Tren yang menonjol adalah preferensi terhadap gedung perkantoran premium dan berkualitas tinggi.
“Mereka mencari ruang office premium dengan kualitas tinggi. Tren flight to quality yang kami bicarakan di Indonesia juga terlihat di pasar lain di Asia Pasifik,” ungkap James, dalam Agenda Media Briefing, pada Kamis (12/2/2026).
Dalam periode 2015–2024, pasar perkantoran CBD dibanjiri tambahan pasokan dalam jumlah besar yang sempat menekan tingkat hunian secara signifikan.
Namun saat ini, tambahan pasokan baru di CBD sangat terbatas. Dengan kenaikan permintaan dan minimnya suplai baru, tingkat okupansi pun mulai meningkat, terutama di gedung premium.
JLL Indonesia juga mencatat danya kenaikan tingkat okupansi secara tahunan. Di mana, tingkat okupansi di CBD Jakarta naik sekitar 2%, menjadi 72% secara tahunan (yoy).
Ini menunjukkan pasar mulai bergerak ke arah pemulihan. Berbeda dengan CBD, pasar perkantoran non-CBD mulai memasuki tahap stabilisasi.
James menjelaskan, jika CBD berbicara tentang pemulihan, maka non-CBD baru mencapai titik stabil.
Baca Juga: Cerita Hashim Soal Pebisnis AS Minta Pencabutan Izin 28 Perusahaan Dibatalkan
Pada kuartal IV 2025, permintaan di non-CBD tercatat sekitar 8.700 m². Dengan sektor pertambangan dan manufaktur memimpin aktivitas penyewaan.Permintaan ini terutama didorong oleh tambahan pasokan baru, dengan sebagian besar aktivitas terkonsentrasi di Jakarta Selatan.
Meski demikian, tingkat okupansi non-CBD sedikit menurun secara tahunan, dari 72% menjadi 70%. Penurunan ini dipengaruhi oleh tambahan dua gedung kantor baru yang masuk pasar pada 2025.
Pemulihan permintaan di CBD juga mulai menarik minat investor. Senior Director, Capital Markets JLL Indonesia, Herully Suherman, mengatakan dalam beberapa bulan terakhir pihaknya menerima banyak penjajakan dari investor domestik maupun asing yang melihat peluang investasi di gedung perkantoran.
“Mereka mencari office premium dan grade A dengan okupansi di atas 80% dan melihat potensi kenaikan rental rate ke depan,” jelasnya.
Memasuki 2026, prospek pasar perkantoran CBD dinilai masih positif. Kombinasi kenaikan permintaan dan pasokan baru yang terbatas menjadi faktor pendukung utama.
Sedangkan untuk pasar non-CBD diperkirakan masih akan melanjutkan fase stabilisasi. Hal ini disebabkan kompetisi dengan CBD, terutama jika selisih harga sewa tetap menarik bagi tenant untuk berpindah lokasi.
Baca Juga: Ini Strategi Eastparc Hotel (EAST) Raih Tingkat Hunian Kamar Hingga 80% pada 2026
Selanjutnya: Ubah Nama, OJK Beri Izin Usaha PT Sapta Pirsa Mandiri Loss Adjuster
Menarik Dibaca: Makuku Luncurkan Comfort Fit, Popok Tipis Anti Bocor untuk Anak Aktif Sepanjang Hari
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













