INDUSTRI
Berita
Sempat anjlok, harga tomat kembali beringsut naik

HARGA TOMAT

Sempat anjlok, harga tomat kembali beringsut naik


Telah dibaca sebanyak 1559 kali
Sempat anjlok, harga tomat kembali beringsut naik

JAKARTA. Harga tomat di tingkat petani dan pedagang mulai kembali bergerak naik setelah turun drastis pada September lalu. Namun, petani mengaku masih merugi karena kenaikan harga tomat baru mencapai Rp 1.000 per kg hingga Rp 1.300 per kg. Padahal untuk mendapat untung mereka harus menjual semurah-murahnya sebesar Rp 2.000 per kg.

Ade Rubini, Ketua Kelompok Tani Sawargi di Pangalengan, Jawa Barat, mengatakan, pada September lalu harga tomat di tingkat petani sempat jatuh menjadi Rp 50 per kg hingga Rp 300 per kg. Padahal, ketika itu produksi tomat kurang karena curah hujan yang rendah.

"Tidak tahu bagaimana caranya harga bisa jatuh padahal barang tidak ada di daerah saya, mungkin dari impor ini yang masuk terus. Di tingkat konsumen harga bisa mencapai Rp 3.000 per kg sementara harga di petani cuma Rp 250 per kg sampai Rp 300 per kg," kata Ade ketika dihubungi KONTAN, Kamis (6/10).

Manajemen Pasar Induk Sayuran dan Buah Kramat Jati mencatat harga tomat di tingkat pedagang sebesar Rp 3.000 per kg hingga Rp 3.500 per kg kemarin (5/10). Angka ini sudah bergerak naik dari harga pada awal bulan Rp 2.600 per kg sementara harga rata-rata September sekitar Rp 2.000 per kg.

Harga pada September lalu sempat tertekan karena terjadi kelebihan pasokan hingga hampir 50%. Petugas Pusat Data dan Informasi Pasar Kramat Jati Suminto mencatat, rata-rata kebutuhan tomat untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya 60 ton hingga 70 ton per hari, sementara pada September lalu pasokan per hari bisa mencapai 90 ton hingga 110 ton.

"Dengan musim hujan yang akan datang produksi akan kembali membaik dan harga diharapkan bisa membaik sampai Rp 3.000 per kg," kata Ade.

Direktur Budidaya dan Pascapanen Sayuran dan Tanaman Obat Kementerian Pertanian, Yul Bahar, mengatakan, berdasarkan perhitungan kementerian tahun ini bisa terjadi kelebihan produksi hingga 30.000 ton. Produksi berlebih ini karena sekarang tanaman tomat sudah mulai bisa ditanam di dataran rendah, tak harus di dataran tinggi.

"Para petani yang di dataran rendah ini punya keunggulan karena mereka lebih dekat ke pasar sehingga biaya juga lebih murah," kata Yul Bahar.

Yul mengatakan, jika kelebihan produksi ini merata di sepanjang tahun, para petani sebenarnya tak akan sampai merugi. Sayangnya para petani kita belum menerapkan manajemen tanam yang benar sehingga kelebihan produksi menumpuk pada sebulan sebelum hari raya Idul Fitri dan sebulan setelah itu.

Badan Pusat Statistik(BPS) mencatat produksi tomat pada 2010 mencapai 891.616 ton. Kementerian Pertanian (Kementan) mencatat rata-rata kenaikan produksi tomat setiap tahun sekitar 2,5% sehingga tahun ini ditargetkan produksi mencapai 913.906 ton. Namun diperkirakan produksi bisa mencapai 943.906 ton dengan kelebihan produksi 30.000 ton.

Editor: Rizki Caturini
Telah dibaca sebanyak 1559 kali



Syarat & Ketentuan Komentar :
  1. Tidak memuat isi bohong, fitnah, sadis dan cabul.
  2. Tidak memuat isi yang mengandung prasangka dan kebencian terkait dengan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), serta menganjurkan tindakan kekerasan.
  3. Tidak memuat isi diskriminatif atas dasar perbedaan jenis kelamin dan bahasa, serta tidak merendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa, atau cacat jasmani.
  4. KONTAN memiliki kewenangan mutlak untuk mengedit atau menghapus komentar yang bertentangan dengan ketentuan ini.

LIPSUS

LIPSUS Update

  • DJP minta caleg dan capres transparan data pajak

    +

    Pemilihan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan presiden baru sebentar lagi mewarnai tahun 2014

    Baca lebih detail..

  • Akbar Tandjung siap jadi cawapres Jokowi

    +

    Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar Akbar Tandjung menyatakan siap maju sebagai bakal calon wakil presiden, termasuk berpasangan dengan Joko Widodo

    Baca lebih detail..