kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.857.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.020   -18,00   -0,11%
  • IDX 7.027   -157,66   -2,19%
  • KOMPAS100 971   -21,90   -2,21%
  • LQ45 715   -12,21   -1,68%
  • ISSI 251   -5,90   -2,30%
  • IDX30 389   -4,63   -1,18%
  • IDXHIDIV20 483   -4,52   -0,93%
  • IDX80 109   -2,25   -2,01%
  • IDXV30 133   -1,42   -1,05%
  • IDXQ30 127   -1,23   -0,96%

Krisis Menjepit Ritel Premium


Rabu, 18 Maret 2009 / 08:36 WIB


Sumber: KONTAN |

JAKARTA. Krisis membuat bisnis ritel kelas kelas atas atau premium semakin tertekan. Daya beli masyarakat menurun sementara biaya operasional membengkak membuat persaingan di bisnis ini semakin ketat. Sebagian memilih menahan laju ekspansi, sebagian mundur.

Pemain di sini harus menyesuaikan diri. Yang terbaru adalah Parisian, department store premium milik PT Matahari Putra Prima. Beberapa gerai Parisian sudah kembali berubah wajah menjadi Matahari yang menyasar kelas menengah atas. Sebelumnya, sebagian gerai Parisian merupakan bekas gerai Matahari.

Danny Kojongian, Direktur Komunikasi Korporat PT Matahari Putera Prima, pengelola Parisian, mengaku perusahaannya terkena imbas ketatnya persaingan ritel premium yang ceruknya sangat kecil. "Kami sadar, kekuatan kami ada di kelas menengah atas, bukan di high class," ungkapnya, Selasa (17/3).

Alhasil, Matahari memutuskan membatalkan rencana mengembangkan 15 gerai Parisian tahun ini. Sebagai gantinya, Matahari mengembangkan gerai Matahari New Generation yang tingkatannya selevel lebih rendah dari Parisian. Saat ini, gerai ini sudah ada empat di Jakarta.

Meski begitu, Danny menampik anggapan bahwa penutupan Parisian lantaran ia tergencet peraturan pengetatan produk impor, khususnya garmen. "Kami memajang produk garmen lokal. Tapi, kami memang harus berhati-hati melihat penurunan daya beli masyarakat," katanya.

Ketua Umum Asosiasi Peritel Indonesia (Aprindo) Benjamin Mailool memastikan pengaruh kebijakan pengetatan impor tekstil dan produk tekstil (TPT) bagi bisnis ritel masih kecil. "Dari total barang yang dijual peritel, 90% merupakan buatan lokal," ujarnya yang juga Presiden Direktur PT Matahari Putera Prima.

Dewi Kertanegara, Direktur PT Star Maju Sentosa, pengelola Star Department Store milik Grup Summarecon mengiyakan hal ini. "Kami mengambil sebagian besar merek dan produk buatan dalam negeri," ungkapnya.

PT Mitra Adi Perkasa (MAP), pengelola beberapa department store premium, juga memilih menahan ekspansi. "Maaf, saya tidak bisa berkomentar," elak Ratih D. Gianda, Group Head of Investor Relations MAP.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×