kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.857.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.020   -18,00   -0,11%
  • IDX 7.027   -157,66   -2,19%
  • KOMPAS100 971   -21,90   -2,21%
  • LQ45 715   -12,21   -1,68%
  • ISSI 251   -5,90   -2,30%
  • IDX30 389   -4,63   -1,18%
  • IDXHIDIV20 483   -4,52   -0,93%
  • IDX80 109   -2,25   -2,01%
  • IDXV30 133   -1,42   -1,05%
  • IDXQ30 127   -1,23   -0,96%

Omzet Bisnis Ritel Anjlok 10%


Jumat, 06 Maret 2009 / 11:47 WIB


Reporter: Nurmayanti |

JAKARTA. Bisnis eceran (ritel) modern mulai merasakan melemahnya daya beli masyarakat. Selama dua bulan terakhir ini omzet bisnis ritel sudah melorot hingga 10%.

Data Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) mengungkapkan, sejak awal tahun ini omzet pengusaha ritel menciut hingga 10%, dari rata-rata omzet bulanan sebesar Rp 5 triliun. Kondisi ini membuat mereka pesimistis bisa menorehkan pencapaian gemilang seperti tahun lalu.

Pada awal tahun ini, Aprindo menargetkan omzet bisnis ritel sepanjang 2009 bisa tumbuh 15% dibanding tahun lalu yang mencapai Rp 70 triliun. Tapi, "Melihat kinerja di awal tahun yang seperti ini, kami tidak yakin target itu bisa tercapai," kata Ketua Harian Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), Tutum Rahanta, Kamis (5/3).

Beberapa perusahaan ritel juga sudah merevisi target masing-masing untuk tahun ini. PT Matahari Putra Prima, misalnya, cuma menargetkan penambahan gerai separuh dari gerai baru tahun lalu sebanyak 18 toko. Target pertumbuhan pendapatannya antara 6% hingga 10% dari tahun lalu, sebesar Rp 11,5 triliun.

Penyebab mengerutnya omzet ritel adalah resesi global yang langsung memukul daya beli masyarakat, khususnya masyarakat golongan menengah ke bawah. Kini, mereka harus fokus membeli barang konsumsi ketimbang produk yang kebutuhannya masih bisa ditunda.

Salah satu produk yang mengalami penurunan penjualan cukup besar adalah produk fesyen, seperti pakaian dan aksesorinya. "Kalau ditotal, penurunannya bisa kurang lebih 10%," ucap Tutum tanpa memerinci berapa besar nilai penurunannya.

Agar bertahan, peritel minta pemerintah segera merealisasikan paket stimulus, khususnya perbaikan infrastruktur transportasi. "Sekarang, komponen biaya transportasi sangat besar," tutur Tutum.

Di sisi peritel sendiri, mereka harus rela mengurangi laba dengan lebih sering menggelar diskon. Pengelola pusat perbelanjaan juga mulai berbenah agar lebih bisa menarik pengunjung sebanyak mungkin. "Kami sudah memperbaiki sarana seperti eskalator, menyediakan vallet parking, dan fasilitas lainnya," ujar Direktur PT Pakuwon Sentosa Abadi, pengelola Blok M Plaza, Stefanus Ridwan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×