Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Garmen dan Tekstil Indonesia (AGTI) menilai rencana pembentukan BUMN tekstil oleh Danantara perlu diarahkan sebagai agregator ekosistem industri tekstil dan produk tekstil (TPT), bukan menjadi pemain baru yang beroperasi langsung di sektor tekstil dan garmen.
Ketua Umum AGTI, Anne Patricia Sutanto mengungkapkan, berdasarkan pemahamannya, rencana Danantara tersebut lebih mengarah pada pembangunan kawasan yang dapat mengintegrasikan ekosistem TPT nasional. Sementara, pelaku usaha di dalam kawasan tetap berasal dari dunia usaha.
"Jadi pelaku-pelakunya tetap dunia usaha. Tapi pembentukan infrastrukturnya adalah dari Danantara," ujar Anne ketika dihubungi Kontan, Rabu (23/9/2026).
Anne mengatakan, konsep tersebut dapat menjadi semacam kawasan terintegrasi untuk industri tekstil. Menurut dia, selama ini ekosistem TPT nasional masih terfragmentasi sehingga membutuhkan peran pemerintah sebagai agregator untuk mempercepat pertumbuhan industri.
"Jadi seperti kayak Silicon Valley-nya, tekstil lagi," katanya.
Menurut Anne, kawasan tersebut tidak hanya perlu memperhatikan industri tekstil dan garmen, tetapi juga kebutuhan dari masing-masing subsektor. Industri tekstil, misalnya, membutuhkan dukungan energi serta infrastruktur pengolahan air limbah yang memenuhi standar lingkungan. Sementara industri garmen membutuhkan tenaga kerja dalam jumlah besar serta dukungan energi hijau.
Baca Juga: Kadin Harap BUMN Tekstil Danantara Tidak Sampai Matikan Investasi Swasta
Anne menilai pendekatan tersebut dapat memperkuat keterkaitan antara industri hulu, semihilir hingga hilir. Menurut dia, industri garmen membutuhkan pasokan tekstil domestik yang kompetitif agar mampu memenuhi permintaan pembeli global.
"Jadi dengan kata lain, memang perlu agregator untuk menggiatkan bukan hanya tekstil, tapi juga Garmen, tapi sebaliknya Garmen juga membutuhkan tekstil lebih, tekstil industri dari hulu sampai semihilir ini juga berdaya saing," jelasnya.
Dia menambahkan, pengembangan kawasan juga perlu memperhatikan standar lingkungan, sosial dan tata kelola (ESG), kualitas produk, diversifikasi bahan hingga kebutuhan pembeli global.
Anne mencontohkan sejumlah negara seperti China dan Vietnam yang menurutnya berhasil mengembangkan industri TPT dengan dukungan pemerintah sebagai agregator. Karena itu, dia menyambut baik perhatian pemerintah terhadap industri TPT nasional.
"Kami menyambut baik, apa yang disampaikan oleh Pak Erlangga, dan Bapak Presiden di ratas mengenai industri ini, perlu dijadikan industri strategis nasional," ujarnya.
Meski demikian, Anne menegaskan bahwa detail mengenai rencana BUMN tekstil tersebut masih perlu dikonfirmasi langsung kepada Danantara. Dia menyebut konsep kawasan terintegrasi tersebut merupakan salah satu pemahaman yang diperolehnya dari pembahasan sebelumnya dengan pemerintah.
"Menurut saya ini sesuatu yang juga perlu Danantara cermati, pikirkan kan ini masuk di dalam business plan," katanya.
Baca Juga: Rencana Danantara Bentuk BUMN Tekstil Terintegrasi Disorot, Ini Sederet Catatannya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














