kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.630.000   3.000   0,11%
  • USD/IDR 17.812   -64,00   -0,36%
  • IDX 6.317   40,42   0,64%
  • KOMPAS100 826   4,59   0,56%
  • LQ45 629   3,17   0,51%
  • ISSI 218   1,53   0,71%
  • IDX30 348   1,36   0,39%
  • IDXHIDIV20 433   -0,09   -0,02%
  • IDX80 94   0,53   0,56%
  • IDXV30 119   0,07   0,06%
  • IDXQ30 112   0,10   0,09%

Rencana Danantara Bentuk BUMN Tekstil Terintegrasi Disorot, Ini Sederet Catatannya


Rabu, 23 September 2026 / 12:09 WIB
Rencana Danantara Bentuk BUMN Tekstil Terintegrasi Disorot, Ini Sederet Catatannya
ILUSTRASI. Rencana Danantara membentuk BUMN tekstil baru terintegrasi dalam satu kawasan mendapat perhatian dari pelaku industri kecil dan menengah (IKM). (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rencana Danantara membentuk BUMN tekstil baru terintegrasi dalam satu kawasan dengan nilai investasi sekitar US$ 6 miliar atau Rp 101 triliun mendapat perhatian dari pelaku industri kecil dan menengah (IKM).

Ketua Umum Ikatan Pengusaha Konveksi Berkarya (IPKB) Nandi Herdiaman mengatakan, rencana tersebut pada dasarnya sejalan dengan upaya pemerintah membangkitkan kembali industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional. Namun, menurut dia, konsep pembangunan yang berpusat di satu kawasan belum sepenuhnya mengakomodasi karakter IKM TPT.

"IKM TPT itu menjamur di pemukiman, di kampung, di gang-gang kota besar. Tidak mungkin dipindahkan ke satu kawasan," kata Nandi dalam keterangannya, Rabu (23/9/2026).

Baca Juga: Tokopedia-TikTok Shop Buka Akses Pasar UMKM Lokal

Dia mengatakan, IKM memiliki karakter berbeda dibandingkan industri besar. Sebagian besar pelaku IKM TPT merupakan industri rumahan dengan skala produksi kecil dan fleksibel. Sentra produksi tersebar di berbagai daerah, seperti Soreang, Majalaya, Cibaduyut dan Kopo di Jawa Barat, Laweyan di Solo, hingga Pekalongan.

Karena itu, Nandi meminta pemerintah tidak hanya memikirkan pengembangan industri besar melalui BUMN tekstil baru, tetapi juga memasukkan jutaan IKM yang berada di luar kawasan industri ke dalam ekosistem tersebut.

Menurut dia, BUMN tekstil baru sebaiknya tidak menjadi pesaing bagi IKM. Sebaliknya, BUMN tersebut dapat berperan sebagai penyedia bahan baku sekaligus offtaker bagi pelaku IKM.

"Konsepnya harus hub-and-spoke. Hulunya di BUMN, hilirnya dikerjakan IKM di gang-gang," ujarnya.

Nandi juga meminta pemerintah memberikan skema yang lebih fleksibel bagi IKM, terutama dalam akses bahan baku, pembiayaan, mesin produksi dan pasar. Menurutnya, persyaratan yang dirancang untuk industri besar berisiko sulit diterapkan pada industri rumahan.

Baca Juga: Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Perkuat Kapasitas Pemeriksaan

Dia menambahkan, dukungan pembiayaan dari Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) juga perlu dapat diakses IKM yang beroperasi dari rumah dan belum berada di kawasan industri.

"Bangun BUMN boleh, tapi jangan lupakan yang sudah menopang ekonomi bangsa selama puluhan tahun," kata Nandi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×