kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Agung Sedayu bikin kawasan keuangan syariah Internasional di PIK 2


Minggu, 08 Desember 2019 / 18:46 WIB
Agung Sedayu bikin kawasan keuangan syariah Internasional di PIK 2
ILUSTRASI. Costumer Service melayani nasabah di Bank Syariah Mandiri Jakarta, Jumat (1/11).

Reporter: Sugeng Adji Soenarso | Editor: Azis Husaini

KONTAN.CO.ID -JAKARTA. Indonesia dan Malaysia umumkan rencana pengembangan kawasan Pusat Keuangan Syariah Internasional di Pantai Indah Kapuk 2. Adapun proyek tersebut bernilai US$ 5 miliar atau setara Rp 70 triliun.

Nono Sampono, Direktur Utama Agung Sedayu Grup menyebutkan tahap pertama akan dikembangkan di atas lahan 4 ha dari total 23,5 ha. "Tahap pertama untuk mengembangkan gedung kembar Menara Syariah," ujarnya di Jakarta, Minggu (8/12).

Baca Juga: Mengintip lima apartemen termahal di kawasan Jakarta

Untuk tahap pertama, investasi yang dibutuhkan sebesar Rp 3,5 triliun. Adapun pengembangannya dari masing-masing tower akan memiliki ketinggian 29 lantai dengan fasilitas ritel di tengahnya.

Nono memproyeksikan untuk tahap pertama pengembangannya akan dilakukan 20 bulan sejak peletakan batu pertama (groundbreaking) yang dilakukan hari ini. Sedangkan, secara total dari lahan seluas 23,5 ha dengan 45 gedung yang akan dikembangkan diproyeksikan selesai dalam 10 tahun.

Asal tahu saja, kongsi tersebut dijalin antara Indonesia bersama Malaysia. Investor Indonesia terdiri dari Agung Sedayu Grup bersama Salim Grup melalui PT Bangun Kosambi Sukses (BKS) dan juga Nikko Sekuritas Indonesia (NSI) sebagai konsultan keuangan. Sedangkan investor dari Malaysia yaitu Matrix Concepts Holdings Berhad.

Berdasarkan riset kontan.co.id, ketiga pihak telah mendirikan perusahaan patungan (JV), Fin Centerindo Satu (FCS) dengan modal US$ 100 juta. BKS akan memiliki 40% kepemilikan saham dan Matrix Concepts dan NSI 30% masing-masing.

Baca Juga: Libur sekolah, PIK Avenue adakan event Dinosaurs City Invasion

Harianto Solichin, Presiden Direktur NSI menyebutkan untuk kerjasama tersebut Investor asal Indonesia yang menjadi mayoritas. "Kepemilikannya 70% investor Indonesia dan 30% investor Malaysia," tegasnya.

Ia melanjutkan, proyek tersebut nantinya tak hanya berisikan industri keuangan syariah tetapi juga seluruh perusahaan yang bergerak di bidang industri halal dari seluruh dunia. Sayangnya, pihaknya belum bisa memaparkan berapa banyak perusahaan yang akan masuk.

Lebih lanjut, ia menyampaikan pihaknya optimis atas proyek tersebut. Menurutnya saat ini aset islamic finance di US$ 2,4 triliun. Kemudian tahun 2025, aset islamic finance dioroyeksikan US$ 3,8 triliun.

"Jadi, sebagai negara dengan populasi masyarakat muslim, Indonesia seharusnya bisa masuk 5 besar dalamĀ  sektor islamic finance," pungkasnya.




TERBARU

Close [X]
×