kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.630.000   -15.000   -0,57%
  • USD/IDR 17.913   43,00   0,24%
  • IDX 5.643   -177,60   -3,05%
  • KOMPAS100 728   -24,24   -3,22%
  • LQ45 553   -19,90   -3,47%
  • ISSI 197   -4,65   -2,31%
  • IDX30 314   -10,96   -3,37%
  • IDXHIDIV20 389   -11,74   -2,93%
  • IDX80 83   -2,75   -3,22%
  • IDXV30 107   -1,77   -1,63%
  • IDXQ30 102   -3,08   -2,93%

Akses blok susah, investasi hulu migas minim


Jumat, 31 Maret 2017 / 11:14 WIB


Reporter: Febrina Ratna Iskana | Editor: Rizki Caturini

JAKARTA. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyadari bahwa sepi investasi hulu migas bukan semata karena harga minyak anjlok. Penyebab lain karena blok-blok baru yang ditawarkan berada di daerah "jin buang anak", lengkap dengan akses yang sulit.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM IGN Wirarmaja Puja menyebutkan, blok-blok migas baru biasanya berada di wilayah terpencil sehingga Indonesia menjadi kurang menarik bagi investasi hulu migas. Saat ini Indonesia memiliki 100 cekungan hidrokarbon. Namun baru sekitar 30 cekungan yang di eksplorasi. Masalahnya lokasi blok tersebut di wilayah frontier. "Artinya, lokasi frontier tentu risiko tinggi dan memerlukan modal besar sekali," ujar Wiratmaja, Rabu (29/3).

Paling menakutkan adalah jumlah Kontraktor Kontrak Kerjasama (KKKS) saat ini terus menurun sejak sejak tahun 2014, bahkan ketika harga minyak masih cukup tinggi. "Artinya ada sesuatu, bukan faktor harga minyak saja," ujar Wiratmaja. Pada tahun 2014 jumlah KKKS mencapai 321 dan saat ini tinggal 300 KKKS yang aktif.

Maka, pemerintah terus membahas kebijakan-kebijakan baru yang bisa membuat iklim investasi hulu migas lebih menarik. Namun, saat ini pemerintah baru bergantung pada skema gross split.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Inventory Management: From Chaos to Control Sales Coaching: Lead Better, Sell More!

[X]
×