kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.590.000   -15.000   -0,58%
  • USD/IDR 17.919   -20,00   -0,11%
  • IDX 6.246   -53,06   -0,84%
  • KOMPAS100 814   -5,15   -0,63%
  • LQ45 622   -1,73   -0,28%
  • ISSI 216   -2,88   -1,32%
  • IDX30 345   -0,70   -0,20%
  • IDXHIDIV20 429   -0,04   -0,01%
  • IDX80 93   -0,46   -0,49%
  • IDXV30 117   -0,67   -0,57%
  • IDXQ30 111   -0,15   -0,14%

Aksi Korporasi Data Center Makin Marak, Waspadai Risiko Krisis Air dan Listrik


Jumat, 25 September 2026 / 14:22 WIB
Aksi Korporasi Data Center Makin Marak, Waspadai Risiko Krisis Air dan Listrik
ILUSTRASI. Maraknya investasi pada infrastruktur data center menjadi sinyal positif bagi pertumbuhan ekonomi digital nasional. ?(Dok/Microsoft)


Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Maraknya aksi korporasi besar dalam membenamkan investasi pada infrastruktur pusat data (data center) menjadi sinyal positif bagi pertumbuhan ekonomi digital nasional. 

Namun, ekspansi padat modal ini dinilai perlu diimbangi dengan regulasi ketat terkait dampak lingkungan serta kejelasan transfer teknologi bagi tenaga kerja lokal.

Direktur Eksekutif ICT Institute, Heru Sutadi mengatakan, maraknya investasi korporasi menunjukkan Indonesia mulai dipandang serius sebagai basis infrastruktur kecerdasan buatan (artificial intelligence) dan ekonomi digital. Meski demikian, potensi besarnya nilai investasi tidak boleh dijadikan satu-satunya ukuran keberhasilan ekspansi.

"Contohnya CGK4 Jatiluhur dirancang mencapai 640 MW, enam gedung, dengan tahap awal 120 MW. Pertanyaannya adalah berapa besar nilai tambah yang tinggal di Indonesia? Pemerintah harus memastikan investasi membawa transfer teknologi, tenaga ahli lokal, penggunaan industri dalam negeri, serta kontribusi ekonomi daerah," ujarnya kepada Kontan.co.id, Jumat (25/9/2026).

Baca Juga: TikTok Dorong Transaksi Bisnis Kuliner

Heru mengungkapkan, konsumsi energi dan air yang masif untuk sistem pendinginan server menyala 24 jam berpotensi menimbulkan dampak negatif. 

Menurutnya, untuk lokasi dekat sumber air seperti Jatiluhur, pemerintah dan pengembang harus memastikan kebutuhan operasional data center tidak mengganggu pasokan air masyarakat maupun operasional pembangkit listrik ekologis setempat.

Dari sisi ketenagakerjaan, Heru menegaskan, fasilitas data center tergolong investasi padat modal yang minim penyerapan tenaga kerja pascakonstruksi akibat dominasi otomatisasi digital.

Dia bilang, pemerintah daerah diimbau tidak terkecoh dengan janji ribuan lapangan kerja, melainkan harus fokus mendorong pekerja lokal menempati posisi operasional berkeahlian tinggi.

"Target sebenarnya adalah sebanyak mungkin tenaga kerja lokal masuk ke pekerjaan berkeahlian tinggi saat operasional," terangnya.

Lebih lanjut, Heru menyarankan, agar skema pembangunan infrastruktur dilakukan secara bertahap berdasarkan kepastian permintaan pasar (secured demand). Ukuran kesuksesan investasi data center dinilai harus berfokus pada nilai tambah ekonomi domestik serta jaminan efisiensi penggunaan sumber daya alam secara berkelanjutan.

Baca Juga: Stok Batubara untuk Industri Semen Menipis, Pasokan Berpotensi Hilang 1,2 Juta Ton

"Jangan sampai Indonesia hanya menjadi lokasi server karena lahan, listrik dan air tersedia, sementara teknologi, keuntungan terbesar dan penguasaan data tetap berada di luar negeri," pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU

[X]
×