Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Investasi pusat data (data center) di Indonesia terus mengalir. Namun, ekspansi kapasitas yang agresif mulai menghadapi tantangan baru, yakni memastikan pertumbuhan pasokan tidak melampaui permintaan.
Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Data Center Indonesia (IDPRO) Hendra Suryakusuma mengatakan, kapasitas data center nasional hingga Mei 2026 telah mencapai sekitar 630 megawatt (MW). Di sisi lain, pipeline tambahan yang disampaikan pemerintah mencapai sekitar 1,3 gigawatt (GW).
Meski demikian, angka pipeline tersebut tidak serta-merta menunjukkan seluruh kapasitas akan masuk pasar dalam waktu bersamaan. Menurut Hendra, perlu dibedakan antara kapasitas yang baru diumumkan, memiliki kepastian pasokan listrik, sedang dibangun, telah beroperasi hingga kapasitas yang sudah dikontrak pelanggan.
"Pertanyaannya bukan sekadar supply bertambah lebih cepat daripada demand," ujar Hendra kepada Kontan, Minggu (13/9/2026).
Baca Juga: Persaingan Ponsel Premium Semakin Bertumpu pada Fitur Kecerdasan Buatan
Hendra memperkirakan kebutuhan kapasitas data center pada 2026 tumbuh sekitar 35%-45%. Dalam satu hingga dua tahun mendatang, tambahan kebutuhan daya diperkirakan mencapai 300 MW-400 MW, terutama didorong hyperscaler, kecerdasan buatan (AI) dan edge deployment.
Dengan proyeksi tersebut, ia mengakui terdapat risiko kelebihan pasokan jika seluruh pipeline 1,3 GW direalisasikan dalam waktu terlalu singkat. Namun, risiko oversupply dinilai lebih mungkin terjadi di lokasi atau segmen tertentu ketimbang secara nasional.
"Bisa terjadi suatu lokasi memiliki terlalu banyak kapasitas pada waktu yang sama," katanya.
Menurut Hendra, pembangunan data center perlu dilakukan secara bertahap mengikuti permintaan yang sudah terlihat. Ini penting mengingat proyek data center membutuhkan modal besar sehingga ekspansi tanpa kepastian pelanggan dapat menekan tingkat utilisasi.
Kebutuhan fasilitas untuk AI juga tidak sepenuhnya sama dengan data center konvensional. Data center berbasis AI membutuhkan kepadatan komputasi lebih tinggi, sistem pendinginan berbeda serta konfigurasi kelistrikan yang lebih besar.
Karena itu, Hendra menilai kesehatan industri tidak cukup diukur dari perbandingan total kapasitas dan permintaan. Investor juga perlu memperhatikan lokasi, profil pelanggan, waktu kapasitas tersedia, tingkat pre-commitment serta kesiapan fasilitas terhadap kebutuhan AI.
"Ukuran keberhasilan bukan seberapa besar kapasitas yang diumumkan, tetapi berapa besar kapasitas yang benar-benar commissioned, contracted dan utilized," tegasnya.
Bukan Cuma Listrik
Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi menilai kebutuhan data center nasional memang masih besar, terutama seiring pertumbuhan cloud computing, AI dan ekonomi digital.
Namun, menurut dia, ekspansi investasi perlu dibarengi perhitungan demand yang realistis. Saat ini, kapasitas operasional disebut sekitar 580 MW dengan pipeline tambahan sekitar 1,3 GW.
"Peluangnya besar, tetapi jangan sampai terjadi pembangunan kapasitas lebih cepat daripada pertumbuhan pelanggan," ujar Heru kepada Kontan, Minggu (13/9/2026).
Baca Juga: Investasi Data Center RI Tembus Pipeline 1,3 GW, Risiko Oversupply Mengintai
Heru menilai data center sebaiknya dibangun secara bertahap berdasarkan kontrak atau kebutuhan pelanggan yang jelas. Sebab, jika kapasitas terbangun lebih cepat daripada permintaan, investasi tersebut berisiko menjadi overcapacity.
Risiko lainnya terletak pada besarnya modal yang harus dikeluarkan. Data center membutuhkan investasi besar dengan periode pengembalian yang panjang. Jika pelanggan tidak tumbuh sesuai proyeksi, tekanan terhadap arus kas dan kemampuan proyek membayar utang dapat meningkat.
Karena itu, struktur pembiayaan juga perlu diperhatikan. Heru menilai proyek dengan pelanggan yang jelas, kontrak jangka panjang dan kepastian pasokan listrik akan lebih sehat dibandingkan proyek yang hanya mengandalkan proyeksi pertumbuhan demand.
"Investasi yang sangat agresif tetap perlu diikuti perhitungan demand yang realistis," katanya.
Di sisi infrastruktur, Hendra mengatakan tantangan industri kini bukan sekadar mencari lahan atau listrik. Investor membutuhkan lahan yang sekaligus memiliki akses listrik dan konektivitas memadai atau powered and connected land.
Data center membutuhkan listrik dalam jumlah besar dengan tingkat keandalan tinggi. Ketersediaan daya secara nasional belum otomatis menjamin kebutuhan fasilitas karena diperlukan redundansi jaringan, kestabilan tegangan dan frekuensi, kapasitas gardu serta kepastian tambahan daya sesuai jadwal pengembangan.
Hendra menyebut PLN telah menunjukkan komitmen mendukung ekspansi data center. Sejumlah proyek memperoleh komitmen pasokan listrik berskala besar, antara lain 511 MVA untuk DayOne di Batam, lebih dari 1 GW untuk pengembangan BDx di sejumlah lokasi serta 2 x 725 MVA untuk campus Digital Edge.
Sementara itu, NeutraDC bekerja sama dengan PLN untuk mendukung ekspansi hyperscale di Cikarang hingga 200 MW.
"Pekerjaan berikutnya adalah memastikan komitmen kapasitas tersebut dapat diwujudkan menjadi power yang benar-benar available di lokasi dan pada waktu yang dibutuhkan," ujar Hendra.
Ia menambahkan, kebutuhan industri bukan hanya electricity availability, tetapi juga electricity reliability. Artinya, kesiapan transmisi, gardu induk, feeder redundancy, kualitas listrik hingga kemampuan pemulihan pasokan ketika terjadi gangguan harus diperhitungkan.
Heru juga mengingatkan agar konsentrasi pembangunan data center di wilayah tertentu tidak menimbulkan tekanan baru terhadap jaringan listrik maupun mengurangi ketahanan sistem.
"Jangan hanya menghitung berapa megawatt kapasitas yang dibangun, tetapi juga dipastikan siapa penggunanya, berapa tingkat utilisasinya, dari mana listriknya, dan apakah infrastruktur pendukungnya siap," kata Heru.
Selain listrik, pengembangan data center membutuhkan dukungan jaringan fiber domestik, konektivitas internasional, kabel bawah laut, lahan dan air untuk pendinginan.
Kebutuhan lahan untuk data center berbasis AI bahkan dapat mencapai 10 hektare-30 hektare atau lebih. Namun, lahan tersebut harus ditopang listrik, fiber, akses jalan, perizinan, keamanan serta ruang ekspansi.
Dari sisi kelistrikan, Hendra melihat Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034 sebagai salah satu fondasi penting. PLN merencanakan tambahan pembangkit sekitar 69,5 GW, jaringan transmisi hampir 47.800 kilometer sirkuit serta tambahan kapasitas gardu induk sekitar 107.950 MVA.
Namun, kebutuhan data center dinilai perlu diintegrasikan sejak awal ke dalam perencanaan sistem kelistrikan. Sebab, pembangunan data center, transmisi dan gardu induk membutuhkan waktu yang tidak singkat.
"Demand forecast industri perlu masuk dalam perencanaan sistem kelistrikan sejak awal," tutur Hendra.
AI Jadi Katalis
Meski menyimpan risiko oversupply, Heru tetap melihat AI dan cloud sebagai mesin pertumbuhan data center dalam beberapa tahun ke depan.
Hanya saja, pertumbuhan kebutuhan komputasi AI tidak otomatis membuat seluruh kapasitas baru langsung terserap pasar. Perkembangan teknologi yang cepat juga dapat mengubah pola kebutuhan pelanggan.
"AI adalah pendorong kuat, tetapi bukan alasan untuk membangun tanpa perhitungan demand," kata Heru.
Menurut dia, Indonesia memang berpeluang menjadi hub data center regional. Namun, daya saing tersebut bergantung pada kemampuan menyediakan listrik yang andal, konektivitas, energi hijau serta ekosistem digital yang kompetitif.
Hendra menambahkan, kebutuhan energi hijau juga semakin penting karena pelanggan hyperscaler dan AI global mulai menuntut penggunaan energi terbarukan untuk mendukung target net zero emission.
Ia menyebut lebih dari separuh anggota IDPRO telah memiliki komitmen net zero emission pada 2030.
"Competitiveness Indonesia ke depan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menyediakan listrik, tetapi juga apakah listrik tersebut reliable, scalable, competitive dan increasingly green," pungkas Hendra.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














