kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.769.000   -50.000   -1,77%
  • USD/IDR 17.586   33,00   0,19%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

AP5I: Suplai udang dan Ikan Patin perlu ditambah untuk meningkatkan ekspor


Senin, 26 November 2018 / 17:56 WIB
ILUSTRASI. PENJUALAN IKAN AIR TAWAR


Reporter: Annisa Maulida | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Pengusaha Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia (AP5I) mengatakan, suplai udang dan ikan patin perlu ditambah untuk meningkatkan ekspor sesuai rencana Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia Budhi Wibowo menjelaskan, diharapkan suplai bahan baku bisa meningkat dan pemerintah bisa menambah bahan baku dengan cara membenahi infrastruktur untuk budidaya.

“Untuk udang, perlu listrik, irigasi, jalan yang nanti kalau infrastruktur sudah tersedia pengusaha pembudidaya akan masuk untuk pengembangan budidaya. Sedangkan untuk ikan patin, dibutuhkan induk dan benih unggul,” ujarnya kepada Kontan.co.id, Senin (26/11).

Sebelumnya, Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) KKP Rifky Effendi Hardijanto mengatakan, mulai 2019 Indonesia siap ekspor ikan patin dengan menargetkan ekspor tahap pertama 2.000-3.000 ton atau senilai US$ 13 juta ke Arab Saudi.

Lebih mendorong ekspor dalam bentuk olahan dan punya added value sehingga harganya ada yang bisa mencapai Rp 2 juta per kg. KKP juga menargetkan dalam tiga sampai lima tahun ke depan produksi ikan patin bisa mencapai 1 juta ton per tahun.

Menurut Budhi, pasar dan pengolahan udang dan ikan patin tidak bermasalah untuk mengekspor. “Masih ada space untuk mengolah itu. Kami bisa menambah bahan baku untuk diolah sekitar 1,7 juta ton tanpa perlu menambahkan alat, karena alat kita kapasitasnya yang belum terpakai masih banyak ,” ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×