Reporter: Raka Mahesa W |
JAKARTA. Pasokan apel malang langka di pasaran lokal. Menurut pantauan KONTAN, pembeli kini lebih mudah mencari apel fuji asal China atau apel washington asal Amerika Serikat ketimbang apel dari kota sejuk di Jawa Timur tersebut.
Martin Orah, Direktur Ariel Suplay Pangan mengatakan, apel malang memang langka di pasar domestik karena dua hal. Pertama, pusat perbelanjaan memborong apel langsung di petani. Padahal, "Pusat perbelanjaan itu sudah memiliki lahan sendiri," ungkap Martin kepada KONTAN, Kamis (10/11).
Kedua, eksportir juga membeli apel malang milik petani dalam jumlah besar. Martin memprediksi, pembelian apel malang oleh eksportir dua kali lebih besar dibanding pembelian yang dilakukan pusat perbelanjaan.
Aksi borong ini sudah berlangsung sejak Juli 2009 lalu. Akibat ulah eksportir dan pusat perbelanjaan ini, Martin tidak bisa memasok lagi apel malang ke pasar di wilayah Jabodetabek. Kini, ia pun beralih ke bisnis buah lain. Padahal, sebelumnya, setiap bulan, ia mampu menyuplai setidaknya satu kontainer berisi 10.000 karton apel Malang. Untuk catatan, satu karton berisi 10 kilogram (kg) apel.
Menurut Martin, apel malang memang lebih menguntungkan jika diekspor. Sebab, harga jual di luar negeri lebih mahal 30% dibanding harga lokal. Adapun negara yang berminat terhadap apel malang adalah Thailand dan Malaysia. "Produsen di Malang sudah tidak mau lagi menjual ke saya untuk domestik," ungkap dia. Itu sebabnya, apel malang yang beredar di pasar lokal adalah persediaan yang tidak lulus kualitas ekspor.
Heri Sanjaya, Manager Pemasaran Usaha Dagang (UD) Buah-Buahan, Kediri, Jawa Timur mengungkapkan hal serupa. Menurut dia, harga jual ekspor memang lebih tinggi dibanding harga jual apel malang di pasar lokal. Maka, UD Buah-Buahan lebih mengekspor apel malang ketimbang menjual untuk kebutuhan lokal. Sebagai gambaran, saat ini, ia bisa menjual apel malang seharga distributor Rp 25.000 per kg. Sedang harga distributor lokal hanya Rp 17.000 per kg. Setiap bulan, perusahaan ini mampu mengekspor 20 ton apel Malang ke Singapura dan Malaysia.
Sayang, sejak Agustus lalu, jumlah ekspor apel malang ini anjlok menjadi hanya lima ton per bulan akibat gangguan cuaca. "Angin yang kencang dan hujan deras menggugurkan bunga sebelum menjadi buah," keluh Heri. Ia pun meramal, produksi apel Malang tahun ini akan menurun lebih dari 60% dibanding 2009.
Kendati menggenjot ekspor, Heri tidak melepas sama sekali pasar apel dalam negeri. Kini, ia menggantinya dengan apel fuji dari China yang harga jual distributornya jauh lebih murah yakni Rp 9.500 per kg. Setiap bulan, Heri mampu menjual 45 ton apel fuji di Jawa Timur dan Jawa Tengah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News