kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.940.000   20.000   0,68%
  • USD/IDR 16.808   -72,00   -0,43%
  • IDX 8.032   96,61   1,22%
  • KOMPAS100 1.132   15,02   1,34%
  • LQ45 821   5,36   0,66%
  • ISSI 284   5,77   2,08%
  • IDX30 427   0,41   0,10%
  • IDXHIDIV20 513   -1,95   -0,38%
  • IDX80 127   1,53   1,22%
  • IDXV30 139   0,46   0,33%
  • IDXQ30 139   -0,29   -0,21%

Xpeng Nilai Ketidakpastian Insentif EV Tekan Permintaan


Minggu, 08 Februari 2026 / 13:52 WIB
Xpeng Nilai Ketidakpastian Insentif EV Tekan Permintaan
ILUSTRASI. Xpeng Indonesia akui permintaan melambat akibat insentif EV 2026 belum jelas. Harga sudah disesuaikan, tapi bisa berubah. Cari tahu strategi Xpeng


Reporter: Leni Wandira | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID  - JAKARTA. PT Xpeng Motors Indonesia menilai belum jelasnya kebijakan insentif kendaraan listrik (electric vehicle/EV) pada 2026 mulai berdampak terhadap laju permintaan. Ketidakpastian tersebut memicu potensi kenaikan harga, sehingga sebagian konsumen menunda keputusan pembelian.

VP Marketing Xpeng Indonesia Hari Arifianto mengatakan, kondisi ini menyebabkan perlambatan dari konsumen yang sudah melakukan pemesanan, seiring kekhawatiran terhadap penyesuaian harga akibat pajak.

“Dampaknya ada, berupa sedikit perlambatan dari pelanggan yang sudah pesan. Karena ada potensi kenaikan harga jika insentif tidak berlanjut,” ujar Hari, Jumat (7/2).

Menurut dia, saat ini Xpeng masih menunggu kepastian regulasi pemerintah terkait skema insentif 2026. Perseroan menyampaikan kepada konsumen bahwa harga akan disesuaikan setelah aturan resmi diterbitkan.

Baca Juga: VinFast Antisipasi Berakhirnya Insentif EV, Fokus Produksi Lokal

“Kalau peraturan resminya sudah keluar, kami akan melakukan penyesuaian. Harga yang kami tawarkan sekarang sudah memasukkan risiko pajak tersebut. Kalau ternyata tidak diterapkan, kelebihannya akan kami kembalikan ke pelanggan,” katanya.

Hari menyebut, saat ini sudah terjadi penyesuaian harga yang merefleksikan potensi penerapan penuh Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 12%. Penyesuaian tersebut bersifat antisipatif agar struktur harga tidak berubah drastis ketika kebijakan resmi diberlakukan.

“Pajaknya kalau diimplementasikan penuh kan 12%. Harga di website sudah menyesuaikan,” ujarnya.

Di sisi lain, Xpeng juga mempersiapkan strategi jangka menengah untuk memenuhi ketentuan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang ditargetkan meningkat hingga sekitar 60% dalam beberapa tahun ke depan. Saat ini, produk Xpeng di Indonesia telah mencapai TKDN sekitar 40%.

“Kami sudah memenuhi 40% TKDN. Ke depan tentu kami persiapkan untuk naik, termasuk dengan memperluas portofolio produk yang cocok untuk diproduksi lokal,” kata Hari.

Baca Juga: Skema Impor BBM Swasta Tahun 2026 Ditetapkan per 6 Bulan, Berapa Kuotanya?

Ia menambahkan, salah satu kontributor utama pencapaian TKDN saat ini berasal dari penggunaan baterai produksi dalam negeri. “Untuk yang 40% itu salah satunya dari baterai yang kami beli dari lokal,” ujarnya.

Menurut Hari, peningkatan TKDN bukan hanya untuk memenuhi regulasi, tetapi juga untuk menjaga daya saing harga di tengah berkurangnya insentif fiskal. Dengan basis produksi yang semakin lokal, tekanan biaya akibat pajak impor dapat ditekan.

Ke depan, Xpeng menilai kepastian arah insentif EV akan sangat menentukan dinamika pasar 2026. Namun, perseroan memilih menyesuaikan strategi harga dan produksi berdasarkan regulasi yang berlaku sambil tetap menjaga daya tarik produk di mata konsumen.

Selanjutnya: Prakiraan Cuaca Maluku Utara 8 Februari 2026: Ternate dan Halmahera Hujan

Menarik Dibaca: 6 Alasan Tidur Bisa Bikin Berat Badan Turun yang Jarang Diketahui

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×