Reporter: Prayogi Ikhrawinata | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Gangguan ekspor gandum Rusia dan Ukraina mulai memengaruhi pasokan gandum global. Sejumlah pelabuhan di kedua negara mengalami kerusakan akibat konflik.
Direktur Eksekutif Asosiasi Produsen Tepung Terigu Indonesia (Aptindo) Ratna Sari Loppies mengatakan, pasokan gandum dari Rusia dan Ukraina saat ini sudah tidak tersedia.
“Gandum dari Ukraina dan Rusia sudah tidak ada lagi karena pelabuhannya hancur. Tidak ada kapal yang mau ke daerah tersebut karena beberapa kapal juga sudah ditembak,” kata Ratna kepada KONTAN, Jumat (21/8/2026).
Baca Juga: Negara Di Asia Ini Diprediksi Raih US$ 22 Miliar Dari Perang Rusia-Ukraina
Menurut Ratna, industri dapat mengalihkan sumber pasokan ke negara produsen lain. Namun, produksi gandum global juga menghadapi tantangan akibat cuaca ekstrem.
“Pengalihan pasokan secara normatif bisa dilakukan. Tetapi produksi gandum Amerika juga turun akibat gagal panen karena iklim ekstrem,” ujarnya.
Di sisi lain, gangguan pasokan berpotensi menjaga harga gandum dunia tetap tinggi. Ratna memperkirakan harga gandum dapat kembali ke kisaran US$ 300-US$ 400 per ton, seperti periode 2022-2023.
Bagi industri tepung terigu Indonesia, kondisi tersebut berpotensi meningkatkan tekanan biaya bahan baku.
Baca Juga: Harga Gandum Chicago Naik, Serangan di Laut Hitam Picu Kekhawatiran Pasokan
Pelaku industri perlu mengantisipasi kenaikan harga gandum sekaligus menjaga ketersediaan pasokan di tengah terbatasnya produksi dari sejumlah negara pemasok.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














