kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.904.000   -43.000   -1,46%
  • USD/IDR 16.862   19,00   0,11%
  • IDX 8.221   -44,32   -0,54%
  • KOMPAS100 1.159   -9,42   -0,81%
  • LQ45 830   -9,66   -1,15%
  • ISSI 295   -1,09   -0,37%
  • IDX30 433   -3,07   -0,70%
  • IDXHIDIV20 517   -4,46   -0,86%
  • IDX80 129   -1,06   -0,81%
  • IDXV30 143   -0,26   -0,18%
  • IDXQ30 139   -1,57   -1,12%

Asaki: Bisnis keramik masih menantang meski harga gas industri US$ 6 per MMBTU


Senin, 06 Juli 2020 / 19:34 WIB
Asaki: Bisnis keramik masih menantang meski harga gas industri US$ 6 per MMBTU
ILUSTRASI. Pekarja mengamati wall ceramic sebelum proses pembakaran akhir di pabrik Roman Ceramic Balaraja Banten, Kamis (9/3). Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) mencatat sudah ada enam pabrik keramik di Pulau Jawa yang stop produksi karena kalah ber


Reporter: Dimas Andi | Editor: Yudho Winarto

Dengan begitu, industri keramik nasional dapat lebih agresif memanfaatkan peluang pasar di kawasan Asia Tenggara dan peluang baru untuk pasar Australia yang selama ini dikuasai produk keramik asal Malaysia.

Lebih lanjut, Asaki memiliki harapan untuk membantu pemulihan ekonomi melalui percepatan penyerapan anggaran belanja pemerintah, penggunaan produk keramik buatan domestik untuk proyek-proyek infrastruktur, hingga penyaluran dana desa dan fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) untuk proyek perumahan sederhana.

Baca Juga: Produsen keramik Essenza memperkuat jaringan distribusi di pasar lokal

“Asaki mengharapkan atensi pemerintah untuk penguatan industri keramik nasional dalam menghadapi tekanan ekonomi akibat pandemi Covid-19 serta gencarnya produk impor dari India dan Vietnam dengan mengeluarkan safeguard untuk kedua negara tersebut,” jelas Edy.

Dia menambahkan, kendala yang masih dihadapi oleh industri keramik nasional yang butuh campur tangan pemerintah berkaitan dengan penghapusan minimum pembayaran untuk pemakaian gas di semester kedua.

Sebab, bisa dipastikan mayoritas industri keramik dalam negeri belum bisa berproduksi normal di tengah lesunya daya beli dan level persediaan produk yang oversupply di gudang pabrik keramik.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×