kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.689.000   -24.000   -0,88%
  • USD/IDR 18.012   0,00   0,00%
  • IDX 5.886   -16,34   -0,28%
  • KOMPAS100 775   -7,40   -0,95%
  • LQ45 587   -2,64   -0,45%
  • ISSI 201   -0,63   -0,31%
  • IDX30 334   -0,77   -0,23%
  • IDXHIDIV20 414   0,55   0,13%
  • IDX80 88   -0,64   -0,72%
  • IDXV30 110   -0,60   -0,54%
  • IDXQ30 108   0,47   0,44%

Asap Bentoel masih membumbung


Sabtu, 16 April 2016 / 10:23 WIB


Reporter: Juwita Aldiani | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

JAKARTA. Saat pertumbuhan ekonomi melambat, produsen rokok masih mampu mendongkrak penjualan. Seperti yang dilakukan PT Bentoel Internasional Investama Tbk yang berhasil mengepulkan kenaikan penjualan sepanjang tahun 2015.

Emiten berkode saham RMBA tersebut mencatat kenaikan 16% menjadi Rp 16,81 triliun di 2015, ketimbang penjualan periode yang sama tahun 2014 senilai Rp 14,07 triliun.

Presiden Direktur PT Bentoel Internasional Tbk Jason Fitzgerald Murphy mengatakan, penjualan rokok Dunhill Fine Cut Filter menjadi pendorong penjualan dengan kontribusi hampir sepertiga penjualan atau Rp 5,6 triliun dengan jumlah 7,4 miliar batang.

"Pasar rokok Dunhill terbesar ada di Sumatera Utara dengan pangsa pasar 23%," kata Jason, Jumat (15/4). Selain penjualan merek Dunhill, penjualan Club Mild juga mendongkrak penjualan Bentoel tahun 2015.

Dampak kenaikan penjualan rokok tersebut juga mendongkrak pangsa pasar Bentoel. Jason mengklaim, tahun 2015 mereka menguasai pangsa pasar 7%, naik ketimbang pangsa pasar tahun 2014 di posisi 5%.

Kenaikan pangsa pasar juga mengantarkan Dunhill menjadi produsen rokok terbesar keempat di Indonesia. Selain dalam negeri, Bentoel juga mengekspor sebagian produknya ke Malaysia.

Ekspor rokok ke negeri Jiran tersebut dilakukan karena induk usaha Bentoel, yakni British American Tobacco, menutup pabrik yang ada di Malaysia. Alhasil, sebagian produk British American Tobacco di Malaysia dipasok oleh Bentoel.

Selain Malaysia, Bentoel juga mencatat transaksi afiliasi dengan British America Tobacco yang ada Filipina. Namun begitu, nilai ekspor terbilang kecil, masih di bawah 1 miliar batang.

Jason bilang, tahun ini Bentoel menargetkan, ekspor bisa melebihi 1 miliar batang atau 5% dari total penjualan. Terkait ekspansi, Jason bilang, dalam lima tahun terakhir, mereka sudah berinvestasi Rp 3,7 triliun untuk perawatan dan penambahan mesin, infrastruktur dan penelitian.

Tahun ini Bentoel ingin menerbitkan 36,84 miliar saham baru lewat rights issue. Jika mengacu harga saham kemarin Rp 450 per saham, Bentoel setidaknya mengincar dana hasil right issue senilai Rp 16,58 triliun.

Jason menerangkan, dana itu akan digunakan untuk membayar utang, sekitar Rp 12 triliun. Selain itu, sebagian dana akan dipakai untuk menambah utilitas pabrik yang diperkirakan baru 60%. RMBA saat ini memiliki pabrik di Malang dan Lombok.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×