kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45920,31   -15,20   -1.62%
  • EMAS1.345.000 0,75%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Asia Pacific Fibers (POLY) Targetkan Penjualan Bersih US$ 390 Juta Tahun Ini


Kamis, 04 Januari 2024 / 13:36 WIB
Asia Pacific Fibers (POLY) Targetkan Penjualan Bersih US$ 390 Juta Tahun Ini
ILUSTRASI. PT Asia Pacific Fibers Tbk. Emiten industri serat sintetis, PT Asia Pacific Fibers Tbk (POLY) menyiapkan sejumlah strategi untuk menghadapi tantangan di tahun ini.


Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten industri serat sintetis, PT Asia Pacific Fibers Tbk (POLY) menyiapkan sejumlah strategi untuk menghadapi tantangan di tahun ini.

Tahun ini, manajemen POLY menargetkan penjualan bersih sebesar US$ 390 juta, atau sekitar 30,87% di atas proyeksi penjualan tahun 2023 sebesar US$ 298 juta. POLY menganggarkan dana belanja modal atau Capex sebesar US$ 4 juta tahun ini.

Head of Corporate Communications and PR Asia Pacific Fibers, Prama Yudha Amdan mengatakan, utilisasi rata-rata industri menurun drastis. Utilisasi POLY sendiri di kisaran 60%-70%.

"Pasar ekspor masih belum normal sedangkan pasar domestik masih dibanjiri impor. Meski konsumsi lokal cukup tinggi, sayang dilibas sama produk impor semua," kata Prama saat dihubungi Kontan.co.id, Kamis (4/1).

Ia menjelaskan, kombinasi ketidakpastian pasar ekspor dan liberalisasi pasar dalam negeri membuat persaingan semakin tidak sehat antara produsen lokal dengan barang dumping impor.

POLY, kata dia, dengan segala keterbatasannya, masih dapat mendorong program unggulan industri terutama dalam mempromosikan keberlanjutan, konservasi lingkungan dan produk penunjang gaya hidup yang ramah dengan alam

"Dalam konteks industri secara umum kita memerlukan kebijakan industri pro-domestik sehingga produsen dapat meningkatkan output produksi," ujar Prama.

Baca Juga: Sektor Industrinya Masih Tertekan, Bagaimana Rekomendasi Saham Emiten Tekstil?

Selain kombinasi tantangan ini, POLY juga masih menghadapi tantangan restrukturisasi.

Strategi yang POLY ambil saat ini terangkum dalam tiga kata yakni efisiensi, rasionalisasi, dan presistensi.

Prama menerangkan, efisiensi diimplementasikan dalam bentuk cost cutting dan memberlakukan sistem stok minimal. Aktivitas efisiensi juga mencakup meminimalkan operasional semua unit dan meninjau ulang pembiayaan kebutuhan di luar produksi. Penghentian pembiayaan non produksi di antaranya perawatan aset dan peralatan non-operatif yang berada di lokasi unit produksi.

"Kami akan melakukan pemberesan dan mengambil tindakan yang diperlukan dalam membereskan perangkat non-operatif untuk mendukung keberlanjutan perusahaan," ungkap Prama.

Kedua, rasionalisasi juga menjadi acuan aktivitas manajemen saat ini. POLY akan berfokus pada aktivitas produksi secara proporsional sesuai dengan permintaan aktual pasar.

Menurut Prama, rasionalisasi termasuk meminimalkan produksi barang komoditas dan menitikberatkan produksi pada barang bernilai tambah. Rasionalisasi juga diikuti dengan penyesuaian kebutuhan tenaga kerja.

Perihal kebutuhan barang komoditas POLY mempertimbangkan opsi untuk memperoleh dari pihak ketiga. Kebijakan manajemen ini dilakukan untuk mendukung upaya kreditor dalam mengkonservasi modal kerja.

Strategi terakhir, persistensi. POLY menghimbau kepada seluruh kreditor baik kreditur pemerintah maupun kreditur asing untuk dapat menuntaskan pembahasan solusi atas restrukturisasi POLY.

"Keputusan arah penyelesaian restrukturisasi sangat penting untuk menyehatkan neraca POLY dalam upaya mendapatkan modal kerja baru untuk pembaruan teknologi dan permesinan," imbuh Prama.

Hingga September 2023, POLY membukukan penjualan sebesar US$ 226,34 juta, turun 27,59% dari US$ 6314,17 juta pada Januari-September 2022. Penjualan POLY per September 2023 didominasi oleh pasar domestik sebesar US$ 192,26 juta, sedangkan pasar ekspor menyumbang penjualan US$ 34,07 juta.

Penurunan penjualan POLY per September 2023 disebabkan turunnya produksi dan penjualan sebagai dampak dari perang Rusia dan Ukraina yang berdampak pada kenaikan harga minyak mentah dunia.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×