kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.630.000   -15.000   -0,57%
  • USD/IDR 17.913   43,00   0,24%
  • IDX 5.643   -177,60   -3,05%
  • KOMPAS100 728   -24,24   -3,22%
  • LQ45 553   -19,90   -3,47%
  • ISSI 197   -4,65   -2,31%
  • IDX30 314   -10,96   -3,37%
  • IDXHIDIV20 389   -11,74   -2,93%
  • IDX80 83   -2,75   -3,22%
  • IDXV30 107   -1,77   -1,63%
  • IDXQ30 102   -3,08   -2,93%

Australia hadapi Kekeringan, produsen tepung terigu alihkan sumber impor


Rabu, 26 September 2018 / 16:56 WIB
ILUSTRASI. Ilustrasi Tepung Terigu


Reporter: Lidya Yuniartha | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kekeringan yang tengah melanda Australia berdampak pada penurunan produksi gandum di negara tersebut. Padahal, biasanya impor gandum Indonesia dari Negara Kanguru itu porsinya bisa mencapai 53% per tahunnya.

“Kalau tahun ini saya perkirakan turun menjadi 35%,“ kata Ketua Umum Asosiasi Produsen Tepung Terigu Indonesia (Aptindo) Franciscus Welirang, Rabu (26/9).

Dengan berkurangnya pasokan dari Australia, sumber impor gandum ini pun dialihkan dari Amerika Serikat (AS), Rusia, Kanada dan Ukraina.

Padahal, gandum dari Australia memiliki keunggulan dibandingkan negara lain. Gandum dari negara ini lebih cocok ditujukan untuk mie, karena masalah warna. Dia mencontohkan, gandum dari AS lebih banyak ditujukan ke roti karena pigmennya yang kemerahan. “Warna ini memang tidak akan berdampak ke roti,” ujarnya.

Pengalihan sumber pasokan ini, menurut Franciscus, dikarenakan adanya unsur ketersediaan pasokan dan harga. Ia mengakui, pengurangan pasokan di wilayah selatan atau di Australia memang akan menggerek harga gandum di wilayah utara seperti di AS, Ukraina, Rusia, Turki.

Meski begitu, dia mengatakan, harga gandum di negara tersebut masih lebih murah dibandingkan harga di Australia. “Untuk apa beli dari Australia kalau harganya lebih mahal,” tutur Franciscus.

Menurut Franciscus, industri juga harus berhati-hati mengimpor gandum dari Ukraina karena sebagian gandum di negara tersebut terkena serangan jamur.

Franciscus tak bisa memperkirakan berapa besar impor gandum oleh Indonesia hingga akhir tahun ini. Pasalnya, masa panen masih akan berlangsung pada Oktober dan November.

“Menjelang akhir tahun atau Oktober dan November, Australia akan panen, Argentina akan panen. Jadi sekarang belum bisa diperkirakan. Kami baru bisa memperkirakan itu di kuartal IV,” tutur Franciscus.

Berdasarkan data Aptindo, impor gandum hingga tujuh bulan pertama tahun ini sebesar 5,49 juta ton atau turun sebesar 13,6% dari periode sama tahun lalu. Impor gandum pada Januari hingga Juli 2017 tercatat sebanyak 6,35 juta ton.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Inventory Management: From Chaos to Control Sales Coaching: Lead Better, Sell More!

[X]
×