kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   -20.000   -0,70%
  • USD/IDR 17.500   -30,00   -0,17%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Australia Ongkosi Penelitian Tuna A$ 10 Juta


Jumat, 11 Juni 2010 / 17:00 WIB


Reporter: Asnil Bambani Amri |

JAKARTA. Australia memiliki kepentingan untuk mempertahankan stok ikan, terutama tuna, di perairan bersama antara Indonesia dan Asutralia. Australia mengkhawatirkan tingginya penangkapan ikan tuna akan mengakibatkan stok ikan di kedua negara mengalami penurunan.

Itu sebabnya, Australia memberikan bantuan untuk Indonesia berupa biaya penelitian sebesar A$ 10 juta untuk meneliti budidaya tuna di Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut, Gondol, Bali.

Menurut Kepala Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut, Gondol, Bali I.Nyoman Adiasmara Giri, bantuan itu akan digunakan untuk pengembangan pembenihan ikan tuna jenis sirip kuning (yellow fin) atau Thunnus Albacores. Selama ini, ikan tuna sirip kuning hanya bisa ditangkap di laut dan belakangan ini populasinya dikhawatirkan menurun karena tingginya aktifitas penangkapan yang semakin lama produksinya semakin menurun.

“Saat ini kami sudah memiliki 37 induk tuna sirip kuning yang sudah ditangkarkan,” kata Adiasmara Giri. Balai Gondol saat ini sudah memiliki 37 indukan yang sudah ditangkarkan dan siap uhntuk melahirkan benih-benih ikan tuna sirip kuning akhir tahun 2010.

Selama ini, pembenihan ikan tuna baru dikembangkan oleh beberapa negara yakni Jepang, dan Panama tetapi dengan jenis yang berbeda yakni tuna sirip biru. Di Jepang sendiri, pembenihan ikan tuna sirip biru sudah dilakukan tahun 1970 tetapi jenisnya adalah tuna sirip biru (blue fin).

Sementara itu di Indonesia, budidaya ikan tuna sudah lama dilakukan namun sumber benih tuna yang didapatkan berasal dari alam atau hasil tangkapan di laut lepas. Kondisi serupa juga dilakukan oleh beberapa negara seperti Asutralia, Prancis dan juga Mexico. “Jika benihnya nanti tersedia, pembudidaya tidak perlu menangkap benih dari alam yang jumlahnya sudah terbatas,” harap Adiasmara.

Mengenai program pembenihan ikan tuna itu, Menteri Keluatan dan Perikanan Fadel Muhammad sebelumnya berharap agar Indonesia menjadi pusat tuna budidaya dengan sumber benih yang juga hasil budidaya. “Kedepan kita tidak tergantung lagi dengan ikan tuna yang disediakan oleh alam,” kata Fadel.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×