Reporter: Vina Elvira | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Kimia Farma Tbk (KAEF) membidik pertumbuhan kinerja high single digit pada 2026. Target tersebut didukung prospek industri farmasi dan kesehatan yang masih menjanjikan.
Direktur Utama Kimia Farma, Djagad Prakasa Dwialam mengatakan, Kimia Farma akan memperkuat sinergi antar entitas dalam grup serta mendorong percepatan digitalisasi guna meningkatkan efisiensi, daya saing, dan pertumbuhan yang berkelanjutan.
Ia melanjutkan, KAEF juga memfokuskan pengembangan bisnisnya pada layanan dan produk yang memberikan kontribusi margin lebih tinggi, memperkuat sinergi antar entitas dalam grup, serta mendorong percepatan digitalisasi guna meningkatkan efisiensi dan daya saing serta mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan.
Baca Juga: Pengusaha Tagih Janji Purbaya Keluarkan Kebijakan Layer Cukai Rokok Baru
“Perusahaan menargetkan pertumbuhan kinerja pada kisaran high single digit. Untuk mencapai target tersebut, Perseroan akan terus memperkuat fundamental perusahaan, khususnya melalui penguatan struktur keuangan,” ungkap Djagad, kepada Kontan.co.id, Senin (9/2).
Lebih jauh Djagad menjelaskan, sebagai negara dengan produk domestik bruto (PDB) terbesar di ASEAN, Indonesia memiliki potensi pasar kesehatan yang besar.
Di sisi lain, belanja kesehatan per kapita Indonesia masih relatif rendah dibandingkan negara-negara lain di kawasan.
Menurutnya, kondisi ini mencerminkan ruang pertumbuhan industri farmasi yang masih terbuka lebar, seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan, perluasan akses layanan, serta kebutuhan layanan kesehatan yang semakin kompleks.
“Kondisi ini mencerminkan bahwa ruang pertumbuhan, termasuk industri farmasi di sektor kesehatan, masih terbuka lebar seiring dengan peningkatan kesadaran, perluasan akses layanan, serta kebutuhan layanan kesehatan masyarakat yang semakin kompleks,” katanya.
Meski prospeknya positif, KAEF tetap menghadapi sejumlah tantangan struktural. Tekanan price erosion akibat ketatnya persaingan dan penerapan mini kompetisi masih menjadi perhatian, di samping tingginya ketergantungan terhadap bahan baku dan obat impor serta tuntutan percepatan digitalisasi.
Baca Juga: Puradelta Lestari (DMAS) Catat Marketing Sales Rp 1,6 Triliun di Tahun 2025
Di tengah tantangan tersebut, berbagai program pemerintah di sektor kesehatan dinilai membuka peluang baru bagi perseroan.
Penguatan upaya pencegahan penyakit, pengobatan, serta deteksi dini, termasuk untuk tuberkulosis, hingga peningkatan kapasitas dan kualitas fasilitas layanan kesehatan dinilai menjadi katalis pertumbuhan ke depan.
“Hal ini menjadi kesempatan bagi Perseroan untuk terus berperan aktif dan berkontribusi dalam mendukung penguatan sistem kesehatan nasional,” ujarnya.
Sejalan dengan strategi pertumbuhan, KAEF juga mendorong pengembangan inovasi layanan kesehatan. Salah satunya melalui perluasan layanan berbasis stem cell dengan menggandeng berbagai rumah sakit di Indonesia.
Melalui anak usaha yang berinteraksi langsung dengan masyarakat, perseroan juga terus meningkatkan kualitas layanan publik sesuai tema Danantara, yakni “Melayani Sepenuh Hati”.
Dari sisi belanja modal, pada 2026 KAEF mengalokasikan capex secara selektif dan terukur. Secara konsolidasian, porsi capex difokuskan pada kebutuhan yang bersifat mandatory, meliputi pemenuhan regulasi, pemeliharaan dan peremajaan aset eksisting, peningkatan standar fasilitas dan kualitas layanan, serta penguatan infrastruktur operasional guna menopang keberlanjutan usaha.
Selanjutnya: Momentum Ramadan-Lebaran, ACES Proyeksi Kinerja Tumbuh di Kuartal I-2026
Menarik Dibaca: Desain XOS 16 Infinix: Visual Premium & Performa Ngebut, Siap Saingi HP Flagship
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













