kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.021.000   -21.000   -0,69%
  • USD/IDR 16.974   58,00   0,34%
  • IDX 7.137   -224,90   -3,05%
  • KOMPAS100 989   -32,34   -3,17%
  • LQ45 728   -22,86   -3,04%
  • ISSI 249   -9,93   -3,83%
  • IDX30 392   -8,64   -2,16%
  • IDXHIDIV20 487   -9,80   -1,97%
  • IDX80 111   -3,58   -3,12%
  • IDXV30 132   -2,45   -1,82%
  • IDXQ30 127   -2,57   -1,99%

Bahlil Buka Opsi Impor Minyak dari AS hingga Australia Jika Selat Hormuz Ditutup


Jumat, 13 Maret 2026 / 15:37 WIB
Bahlil Buka Opsi Impor Minyak dari AS hingga Australia Jika Selat Hormuz Ditutup
ILUSTRASI. Penutupan Selat Hormuz paksa RI cari pasokan minyak mentah baru. Menteri ESDM ungkap rencana besar diversifikasi impor energi (KONTAN/Sabrina Rhamadanty)


Reporter: Lailatul Anisah | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia membuka peluang untuk membuka keran impor minyak mentah dari sejumlah negara seperti Amerika Serikat, Brasil hingga Australia.

Langkah ini dipertimbangkan sebagai upaya diversifikasi pasokan energi nasional jika konflik di Timur Tengah tidak mereda dan Iran benar-benar melakukan penutupan menyeluruh terhadap Selat Hormuz.

“Dan tadi, beberapa hari kan saya sudah laporkan bahwa kita akan mengkonversi dari BBM kita, crude ya, minyak mentah dari Middle East itu ke Amerika dan beberapa negara lain seperti Nigeria kemudian Brasil, Australia, dan beberapa negara lain,” kata Bahlil di Istana Kepresidenan, Kamis (12/3/2026).

Baca Juga: Kementerian ESDM Waspadai Dampak Konflik Timur Tengah Mulai April 2026

Menurut Bahlil, pemerintah saat ini terus memantau perkembangan harga minyak global yang sangat fluktuatif akibat ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Pemerintah juga menyiapkan berbagai skenario untuk menjaga stabilitas pasokan energi dalam negeri.

“Yang jelas kita akan mencari alternatif yang terbaik untuk bangsa kita,” pungkas Bahlil.

Sebelumnya, Teheran memutuskan menutup Selat Hormuz sejak 1 Maret 2026 seiring meningkatnya eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel dan Iran.

Baca Juga: Ramai Keluhan “Krisis Ojol” Saat Ramadan, Ini Penjelasan Gojek dan Grab

Kebijakan tersebut langsung mengguncang pasar energi global. Jalur laut sempit yang menjadi salah satu urat nadi perdagangan minyak dunia itu berubah menjadi titik rawan setelah perang pecah pada akhir Februari 2026.

Akibat meningkatnya konflik, harga minyak dunia turut merangkak naik dari asumsi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia yang berada di kisaran 70 dollar AS per barel menjadi sekitar 78 hingga 80 dollar AS per barel. Lonjakan ini mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan minyak global dari kawasan Timur Tengah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Financial Statement in Action

[X]
×