kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.122.000   -13.000   -0,41%
  • USD/IDR 16.902   8,00   0,05%
  • IDX 7.940   -77,07   -0,96%
  • KOMPAS100 1.111   -13,95   -1,24%
  • LQ45 806   -6,90   -0,85%
  • ISSI 283   -3,09   -1,08%
  • IDX30 427   -2,07   -0,48%
  • IDXHIDIV20 519   1,40   0,27%
  • IDX80 125   -1,34   -1,06%
  • IDXV30 141   0,27   0,19%
  • IDXQ30 137   -0,41   -0,30%

ESDM Alihkan Sebagian Impor Minyak Mintah ke AS Imbas Penutupan Selat Hormuz


Selasa, 03 Maret 2026 / 17:42 WIB
ESDM Alihkan Sebagian Impor Minyak Mintah ke AS Imbas Penutupan Selat Hormuz


Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang memicu penutupan jalur pelayaran di Selat Hormuz mendorong Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengalihkan sebagian impor minyak mentah (crude oil) dari Timur Tengah ke Amerika Serikat (AS).

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan, pemerintah mulai mengalihkan sebagian impor minyak mentah (crude oil) dari kawasan Timur Tengah ke Amerika Serikat.

Langkah tersebut dibahas dalam rapat perdana Dewan Energi Nasional (DEN) yang digelar atas arahan Presiden Prabowo Subianto, dengan fokus pada dinamika global dan dampaknya terhadap ketahanan energi Indonesia.

Baca Juga: RKAB Batubara Dipangkas, Menteri Bahlil Ungkap Pengaruh ke Pasokan Bahan Baku PLN

Bahlil menjelaskan, penutupan Selat Hormuz akibat eskalasi konflik antara Israel, Amerika Serikat, dan Iran berdampak langsung terhadap pasokan energi global. Jalur tersebut selama ini dilalui sekitar 20,1 juta barel minyak per hari (bph) atau sekitar seperlima suplai minyak dunia.

"Dari total impor crude kita dari Middle East itu kurang lebih sekitar 20% sampai 25%. Selebihnya kita ambil dari Afrika, dari Angola, dari Amerika, kemudian dari beberapa negara lain seperti Brazil. Jadi secara keseluruhan impor kita untuk crude, 20% sampai 25% dari Selat Hormuz, selebihnya tidak dari sana," kata Bahlil dalam Keterangan Pers Ketua Harian DEN/Menteri ESDM di Jakarta, Selasa (3/3/2026).

Artinya, secara total ketergantungan langsung Indonesia terhadap pasokan yang melewati Selat Hormuz masih di kisaran seperempat dari total impor crude. Namun demikian, pemerintah tidak ingin terjebak dalam ketidakpastian konflik yang durasinya sulit diprediksi.

Mengantisipasi kemungkinan konflik berlangsung lebih lama, pemerintah menyiapkan skenario terburuk. Salah satunya dengan mengalihkan sebagian impor minyak mentah dari Timur Tengah ke Amerika Serikat untuk memastikan kepastian pasokan.

“Nah, dalam rangka itu kami mengambil alternatif terjelek, katakanlah ini lambat. Maka apa skenarionya? Skenarionya adalah sekarang ini untuk crude yang kita ambil dari Middle East, sebagian kita alihkan untuk ambil di Amerika. Supaya apa? Ada kepastian ketersediaan crude kita,” tegas Bahlil.

Baca Juga: Raih kinerja apik, Penjualan dan Laba Garudafood (GOOD) Kompak Melesat pada 2025

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
AI untuk Digital Marketing: Tools, Workflow, dan Strategi di 2026 Mastering Strategic Management for Sustainability

[X]
×