kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.645.000   -50.000   -1,86%
  • USD/IDR 17.860   -27,00   -0,15%
  • IDX 6.398   -51,36   -0,80%
  • KOMPAS100 826   -4,64   -0,56%
  • LQ45 628   -2,87   -0,45%
  • ISSI 224   -2,65   -1,17%
  • IDX30 351   -1,23   -0,35%
  • IDXHIDIV20 428   -0,92   -0,21%
  • IDX80 94   -0,53   -0,56%
  • IDXV30 119   -0,23   -0,20%
  • IDXQ30 111   -0,49   -0,44%

Baja RI Menghadapi Tiga Lapis Hambatan Dagang Global, Ini Rinciannya


Rabu, 19 Agustus 2026 / 14:58 WIB
Baja RI Menghadapi Tiga Lapis Hambatan Dagang Global, Ini Rinciannya
ILUSTRASI. Tekanan terhadap industri baja nasional meningkat signifikan dengan adanya excess capacity di global yang dorong negara produsen cari pasar baru (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri baja nasional menghadapi tekanan perdagangan global yang semakin berat. Selain persoalan kelebihan kapasitas produksi dunia, produk baja Indonesia harus menghadapi berbagai instrumen perdagangan baru, mulai dari pembatasan tarif, Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) hingga aturan asal-usul produksi seperti melt and pour.

Ketua Tim Kerja Sama Internasional dan Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN) Kementerian Perindustrian Willy Fandri mengatakan, tekanan terhadap industri baja nasional saat ini meningkat signifikan. Salah satu pemicunya adalah excess capacity di pasar global yang mendorong negara produsen mencari pasar baru.

"Excess capacity itu kenapa? Karena dari Eropa dan beberapa negara lain itu menutup akses. Karena China sudah berhenti, terjadi excess capacity," ujar Willy dalam diskusi Green Steel for Growth Convening 2026 di Jakarta, Rabu (19/8/2026).

Baca Juga: Ada Rute DAMRI ke Bandara, Metland Punya Jurus Baru Genjot Traffic Grand Metropolitan

Willy memperkirakan, kelebihan kapasitas produksi logam global dapat mencapai sekitar 745 juta ton pada 2028. Kondisi tersebut membuat negara-negara emerging market, termasuk Indonesia dan kawasan Asia Tenggara, berpotensi menjadi tujuan pengalihan perdagangan atau trade diversion.

Menurut dia, tekanan tersebut kini datang berlapis. Setelah berbagai penyesuaian tarif, industri juga menghadapi CBAM yang diberlakukan Uni Eropa. Selanjutnya, muncul aturan melt and pour yang membatasi praktik pemrosesan produk baja dari negara ketiga sebelum masuk ke pasar tujuan.

"Bayangkan dua lapis sekarang, habis CBAM, habis melt and pour datang. Bayangkan modifikasi tarifnya naik pakai TRQ. Habis kena TRQ, kena CBAM, kena lagi melt and pour," katanya.

Aturan melt and pour menjadi perhatian karena berpotensi menekan negara yang menjadi lokasi pengolahan lanjutan produk baja. Willy mencontohkan, kemungkinan bahan setengah jadi dari China diproses lebih lanjut di Indonesia sebelum kembali diekspor ke pasar negara maju.

Selain itu, industri juga harus menghadapi instrumen anti-dumping yang dapat semakin membatasi akses pasar.

Direktur Eksekutif Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) Harry Warganegara mengatakan, tantangan akses pasar tersebut menjadi semakin penting karena ekspor merupakan salah satu saluran penyerapan produksi baja nasional.

Baca Juga: Ekspor Minyak Atsiri Indonesia Capai US$ 348,7 Juta pada 2025

Pada 2025, produksi crude steel Indonesia berada di kisaran 19 juta ton. Dari total tersebut, sekitar 7,7 juta ton merupakan produk baja seperti hot rolled coil (HRC), cold rolled, pipa dan produk lainnya, di luar produk feronikel.

Harry mengatakan, sekitar 3 juta ton produk baja Indonesia diekspor ke Eropa pada 2025. Artinya, perubahan kebijakan perdagangan Uni Eropa berpotensi memberikan dampak langsung terhadap industri nasional.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×