kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.615.000   -20.000   -0,76%
  • USD/IDR 18.120   -5,00   -0,03%
  • IDX 6.075   36,77   0,61%
  • KOMPAS100 793   4,42   0,56%
  • LQ45 601   -0,89   -0,15%
  • ISSI 210   3,13   1,51%
  • IDX30 340   -0,74   -0,22%
  • IDXHIDIV20 422   -1,12   -0,26%
  • IDX80 90   0,38   0,43%
  • IDXV30 115   0,54   0,47%
  • IDXQ30 109   -0,16   -0,15%

Industri Baja RI Optimistis Semester II, Tapi Bayang-Bayang Impor Mengintai


Selasa, 14 Juli 2026 / 11:40 WIB
Industri Baja RI Optimistis Semester II, Tapi Bayang-Bayang Impor Mengintai
ILUSTRASI. Pabrik pembuatan pipa baja milik PT SPINDO (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelaku industri baja nasional masih optimistis menatap prospek usaha pada semester II-2026. Meski pertumbuhan diperkirakan tidak sekuat sebelumnya, permintaan domestik yang tetap terjaga dan peluang ekspor dinilai masih mampu menopang kinerja industri hingga akhir tahun.

Ketua Umum Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) Harry Warganegara mengatakan, prospek industri baja pada paruh kedua tahun ini masih positif, sejalan dengan ekspektasi pertumbuhan sektor manufaktur meski lajunya lebih moderat.

"Prospek sektor manufaktur pada semester II-2026 diperkirakan masih tumbuh, namun dengan laju yang lebih moderat. Aktivitas manufaktur masih ditopang oleh meningkatnya permintaan, baik dari domestik maupun luar negeri," ujar Harry kepada Kontan, Selasa (14/7/2026).

Baca Juga: PGEO Perluas Bisnis Panas Bumi ke Green Hydrogen dan Sektor Industri

Meski demikian, Harry mengakui industri baja masih dibayangi sejumlah tantangan. Mulai dari tingginya biaya logistik dan energi, pelemahan nilai tukar rupiah, ketidakpastian geopolitik, hingga tekanan akibat kelebihan kapasitas produksi baja global yang mendorong arus impor ke pasar Indonesia.

Menurut dia, kondisi tersebut membuat dukungan kebijakan pemerintah tetap diperlukan agar daya saing industri baja nasional tetap terjaga.

Harry menjelaskan, hingga akhir tahun kinerja industri baja akan dipengaruhi kombinasi faktor domestik dan global. Dari dalam negeri, daya beli masyarakat, konsumsi rumah tangga, serta realisasi investasi akan menjadi penopang utama permintaan produk baja.

Namun di sisi lain, pelemahan rupiah membuat biaya impor bahan baku dan mesin meningkat. Kenaikan biaya energi dan logistik juga menambah tekanan terhadap biaya produksi sehingga perusahaan dituntut terus meningkatkan efisiensi dan produktivitas.

Sementara itu, dari sisi eksternal, perlambatan ekonomi global, ketidakpastian geopolitik, meningkatnya persaingan akibat kelebihan kapasitas produksi global (global overcapacity), serta dinamika perdagangan internasional diperkirakan masih memengaruhi permintaan ekspor dan kelancaran rantai pasok industri baja.

Karena itu, IISIA memandang kepastian kebijakan pemerintah, kemudahan berusaha, insentif bagi sektor industri, serta jaminan pasokan energi dan bahan baku yang kompetitif menjadi faktor penting untuk menjaga keberlanjutan produksi.

Baca Juga: Telkomsat Gandeng UNIVITY Kembangkan Satelit VLEO untuk Perkuat Koneksi RI

Asosiasi juga mengapresiasi komitmen pemerintah mempertahankan kebijakan Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) bagi industri. Menurut Harry, kepastian pasokan gas dengan harga khusus menjadi salah satu instrumen penting untuk menjaga efisiensi biaya produksi industri baja.

"Kami berharap ketersediaan dan penyaluran HGBT dapat dijamin sesuai volume yang telah ditetapkan dalam Perjanjian Jual Beli Gas (PJBG) maupun Keputusan Menteri ESDM, tanpa adanya pembatasan alokasi secara proporsional," katanya. Dengan demikian, industri baja dapat memperoleh kepastian pasokan energi untuk meningkatkan daya saing.

Adapun dari sisi ekspor, Harry menilai prospeknya masih menghadapi tantangan pada semester II-2026. Perlambatan ekonomi global membuat permintaan dari sejumlah negara tujuan ekspor belum pulih sepenuhnya. Selain itu, perubahan kebijakan perdagangan di berbagai negara dan meningkatnya praktik trade diversion membuat persaingan di pasar ekspor semakin ketat.

Meski demikian, peluang ekspor tetap terbuka bagi produk baja yang memiliki daya saing dan nilai tambah tinggi. Oleh sebab itu, IISIA mendorong pelaku industri untuk memperluas pasar ekspor, meningkatkan efisiensi produksi, dan memperkuat daya saing agar tetap mampu memanfaatkan peluang di tengah kondisi global yang belum sepenuhnya kondusif.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×