Reporter: Leni Wandira | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Badan Karantina Indonesia (Barantin) mendorong penguatan industri florikultura nasional agar tidak hanya berkembang sebagai sektor hobi dan gaya hidup, tetapi juga memiliki nilai tambah serta mampu memperluas akses ke pasar global.
Kepala Barantin, H. Abdul Kadir Karding mengatakan, pengembangan industri florikultura membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, breeder, nursery, komunitas hingga konsumen. Menurut dia, tanaman dapat menjadi penghubung berbagai mata rantai dalam industri sekaligus membuka peluang pengembangan pasar internasional.
“Hari ini kita tidak hanya membuka sebuah pameran tanaman hias, tetapi juga membuka jendela untuk melihat masa depan industri florikultura Indonesia. Tema ‘United by Nature’ menggambarkan arah yang sangat tepat, karena tanaman menyatukan petani dengan industri, breeder dengan nursery, pelaku usaha dengan konsumen, komunitas dengan pemerintah, hingga menyatukan Indonesia dengan pasar dunia,” ujar Kadir Karding saat membuka Floriculture Indonesia International (FLOII) Expo 2026 di Hall 3A, ICE BSD City, Tangerang, Kamis (17/9/2026).
Menurutnya, kolaborasi menjadi salah satu kunci untuk mendorong florikultura Indonesia menjadi industri yang bernilai tambah. Karena itu, penguatan ekosistem tidak hanya berkaitan dengan produksi tanaman, tetapi juga mencakup perdagangan dan pemenuhan ketentuan pergerakan tanaman antarwilayah maupun antarnegara.
Baca Juga: Dyandra Group Targetkan Perluas Ekosistem Bisnis Tanaman Hias Melalui FLOII Expo 2026
Peran tersebut juga berkaitan dengan fungsi karantina dalam mendukung lalu lintas komoditas tanaman. Dalam rangkaian FLOII Expo 2026, aspek regulasi dan perdagangan internasional menjadi salah satu materi yang dibahas, termasuk ketentuan impor tanaman serta proses karantina tanaman.
Karding mengatakan, pengembangan industri florikultura perlu dilakukan secara bersama agar potensi kekayaan hayati Indonesia dapat memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar.
“Kita harus bersinergi dan mari jadikan ‘United by Nature’ sebagai gerakan kolaborasi,” katanya.
Indonesia sendiri memiliki basis sumber daya tanaman yang beragam serta pelaku industri yang mencakup petani, breeder, kolektor, pengusaha tanaman hias hingga komunitas. Penguatan jaringan dan profesionalisme pelaku usaha dinilai menjadi bagian penting dalam mengembangkan industri tersebut.
Ketua Umum Indonesia Aroid Society (IAS), Anjasmara Prasetya mengatakan Indonesia memiliki kekayaan hayati dan pelaku industri tanaman hias yang cukup beragam. Namun, pengembangan industri membutuhkan penguatan jaringan dan profesionalisme.
“Indonesia memiliki kekayaan hayati yang luar biasa, para breeder yang kreatif, kolektor yang luar biasa, hingga pengusaha tanaman hias yang tangguh. Yang kita perlukan saat ini adalah bersatu, membangun jaringan, meningkatkan profesionalisme, dan bergerak bersama,” ujarnya.
Baca Juga: Mencari Peluang Kemitraan Bisnis Lewat Ajang Pameran
Adapun FLOII Expo 2026 berlangsung pada 17-20 September 2026. Memasuki tahun kelima penyelenggaraannya, pameran tersebut melibatkan lebih dari 120 exhibitor dari dalam dan luar negeri, termasuk pelaku industri dari Thailand, Taiwan, China dan Ekuador.
Steering Committee FLOII Expo 2026 Rustika Herlambang mengatakan kehadiran pelaku industri dari berbagai negara turut membuka ruang pertemuan antara komunitas, pelaku usaha dan masyarakat dalam ekosistem florikultura.
“FLOII Expo 2026 mengajak kita melihat florikultura bukan sekadar tren atau hobi, melainkan ruang kolaborasi yang mempertemukan komunitas, pelaku industri, dan masyarakat melalui kecintaan terhadap tanaman, alam, dan gaya hidup berbasis nature dalam satu ekosistem yang terus berkembang,” ujar Rustika.
Selain pameran tanaman, FLOII Expo 2026 menghadirkan sejumlah program seperti plant exhibition, landscape showcase, botanical art competition, plant contest, plant auction, talkshow, workshop, serta kompetisi aquascape dan terrarium.
Dukungan terhadap penyelenggaraan FLOII Expo 2026 juga datang dari Barantin dan Kementerian Pertanian. Agenda tersebut menjadi salah satu wadah untuk mempertemukan pelaku industri florikultura sekaligus memperkenalkan berbagai aspek bisnis dan regulasi dalam perdagangan tanaman.
Dengan semakin luasnya keterlibatan pelaku industri dan perdagangan lintas negara, penguatan standar serta pemahaman terhadap ketentuan karantina menjadi bagian dari upaya menjaga kelancaran lalu lintas komoditas florikultura sekaligus mendukung pengembangan industri tanaman hias nasional.
Baca Juga: Tanaman Hias RI Laris di Korea Selatan, Potensi Transaksi Tembus Rp 17 Miliar
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














