Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indonesia dinilai memiliki peluang besar menjadi pemain kakao premium dunia. Namun, pengembangan kakao fine flavor nasional masih terkendala kualitas pascapanen yang belum konsisten, mulai dari proses fermentasi hingga pengeringan biji kakao.
Riset terbaru Asosiasi Cokelat Bean to Bar Indonesia dan Koalisi Ekonomi Membumi menemukan kakao Indonesia memiliki karakter rasa khas tropis seperti kelapa, pandan, gula palem, dan pisang raja yang dinilai belum banyak dimiliki negara produsen kakao premium lain. Temuan tersebut menunjukkan Indonesia berpeluang membangun identitas origin sendiri di pasar kakao premium global.
Pemetaan yang dilakukan di Bali, Ende, dan Yogyakarta menunjukkan kebutuhan pasar kakao premium mencapai sekitar 185 ton per tahun dan diperkirakan terus meningkat. Mayoritas produsen cokelat bean to bar juga menyatakan siap menyerap pasokan dari daerah baru selama mutu dan proses produksinya terjaga.
Baca Juga: Inchcape GWM Indonesia Resmikan Dealer ke-19 di Makassar, Bidik Pasar Indonesia Timur
Tim Peneliti dan Dewan Pengawas ACBI, Peni Agustijanto, mengatakan tantangan utama kakao nasional saat ini bukan lagi sekadar produksi, melainkan stabilitas kualitas dari hulu hingga hilir.
“Pasar menunggu pasokan yang stabil dan bisa dipertanggungjawabkan. Tantangan yang muncul antara lain produktivitas kebun yang relatif rendah karena tanaman sudah tua,” ujar Peni dalam media briefing secara virtual, Kamis (21/5/2026).
Selain itu, lanjutnya, petani kakao masih cukup bergantung pada pendamping dan kepemilikan lahan yang relatif kecil membuat kakao belum menjadi komoditas utama penopang pendapatan keluarga.
Karena itu, riset merekomendasikan percepatan peremajaan kebun dengan bibit unggul, perluasan akses pembiayaan petani, penguatan standardisasi mutu pascapanen, hingga peningkatan kemitraan antara petani dan industri cokelat.
Direktur Eksekutif Koalisi Ekonomi Membumi Fito Rahdianto menilai pengembangan kakao premium perlu diposisikan sebagai bagian dari strategi bioekonomi nasional karena mampu menciptakan nilai tambah sekaligus menjaga keberlanjutan.
Sementara itu, Direktur Penghimpunan Dana Badan Pengelola Dana Perkebunan Kementerian Pertanian Normansyah Syahruddin menyebut pemerintah mendukung penguatan ekosistem kakao premium melalui program peremajaan kakao rakyat seluas 174.000 hektare pada tahun ini.
“BPDP juga telah mengalokasikan pendanaan untuk mendukung sarana dan prasarana pascapanen dan pengolahan kakao,” kata Normansyah.
Baca Juga: Henkel Tawarkan Solusi Efisiensi Infrastruktur Migas di IPA Convex 2026
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













