Reporter: Prayogi Ikhrawinata | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Batam, Kepulauan Riau, berpeluang menjadi pusat industri pusat data (data center) di Asia Tenggara.
Namun, untuk menarik investasi lebih besar, Batam perlu memperkuat kesiapan infrastruktur, kepastian regulasi, serta pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan.
Ketua Bidang Advisori & Rekognisi Industri Indonesia Data Center Ecosystem Council (IDCEC) Indrama Y.M. Purba mengatakan, kedekatan geografis Batam dengan Singapura, konektivitas kabel laut internasional, serta keberadaan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Nongsa menjadi modal penting untuk menarik investor pusat data.
Baca Juga: Kaltim Prima Coal Dukung Program Air Bersih Berkelanjutan
“KEK Nongsa khususnya menawarkan kombinasi infrastruktur yang relatif siap, keringanan prosedur perizinan melalui kerangka KEK, dan kedekatan dengan ekosistem digital Singapura,” ujar Indrama kepada KONTAN, Senin (19/10/2026).
Meski memiliki keunggulan geografis dan fasilitas investasi, menurut Indrama, daya saing Batam tidak cukup hanya mengandalkan lokasi strategis.
Ketersediaan listrik, pasokan air, kapasitas jaringan serat optik, serta konektivitas kabel laut harus mampu memenuhi kebutuhan pusat data yang beroperasi selama 24 jam sehari.
Kepastian regulasi juga menjadi faktor penting untuk memperkuat daya tarik investasi. Indonesia dinilai perlu memperjelas standar khusus bagi industri pusat data, mulai dari efisiensi penggunaan energi dan air, mekanisme pelaporan, kriteria lokasi, hingga kepastian proses perizinan.
“Kompetitivitas Batam akan meningkat signifikan jika keunggulan FTZ dan KEK Nongsa dilengkapi dengan kerangka regulasi khusus data center yang sesuai konteks Indonesia,” katanya.
Selain pasokan listrik, ketersediaan air menjadi tantangan tersendiri karena Batam bergantung pada waduk tadah hujan.
Baca Juga: Target Zero ODOL Januari 2027, MTI Minta Pengawasan Dimulai dari Kawasan Industri
Untuk mengantisipasi peningkatan kebutuhan industri, diversifikasi sumber air perlu dipertimbangkan, termasuk melalui teknologi seawater reverse osmosis (SWRO) yang mengolah air laut menjadi air tawar.
Di sisi lain, pengembangan pusat data juga berpotensi menciptakan efek berganda bagi perekonomian Batam.
Investasi di sektor ini dapat mendorong pertumbuhan bisnis komputasi awan (cloud computing), kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), jasa rekayasa, hingga rantai pasok pendukung.
Namun, besarnya investasi tidak otomatis menjamin manfaat ekonomi yang optimal bagi masyarakat sekitar.
Karena itu, keterlibatan tenaga kerja dan pelaku usaha lokal perlu menjadi bagian dari strategi pengembangan industri pusat data.
Indrama menekankan pentingnya transfer kompetensi teknis, pengembangan rantai pasok dalam negeri, serta kontribusi perusahaan terhadap infrastruktur publik di sekitar fasilitas pusat data.
Baca Juga: Industri Hasil Tembakau Tertekan Regulasi, Petani Minta Kepastian Kebijakan
“Nilai tambah bagi perekonomian lokal baru akan optimal jika pengembangan diikuti dengan penyerapan tenaga kerja lokal, transfer kompetensi teknis kepada SDM Indonesia, pengembangan rantai pasok lokal, serta kontribusi nyata pada infrastruktur publik di sekitar fasilitas,” ujar Indrama.
Dengan demikian, peluang Batam menjadi pusat data regional tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menarik modal asing.
Kesiapan utilitas, kepastian regulasi, dan keterlibatan pelaku ekonomi lokal juga akan menentukan sejauh mana investasi tersebut mampu memperkuat ekosistem digital sekaligus menciptakan nilai tambah bagi perekonomian daerah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













