kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.534   34,00   0,19%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Bawang putih lokal sulit bersaing


Kamis, 19 Juni 2014 / 22:17 WIB
ILUSTRASI. Harga Emas di Pegadaian, Siang Ini Senin 23 Januari 2023. ANTARA FOTO/Galih Pradipta/rwa.


Reporter: Mona Tobing | Editor: Hendra Gunawan

JAKARTA. Ketergantungan Indonesia akan impor bawang putih sulit dipangkas. Pasalnya, kualiatas produk bawang putih lokal belum mampu bersaing dengan bawang putih asal Tiongkok dan Singapura.

Dirjen Hortikultura Kementerian Pertanian, Hasanuddin Ibrahim mengatakan, karakteristik bawang putih lokal bukanlah digunakan sebagai bumbu dapur. Melainkan digunakan sebagai bahan baku obat dan jamu tradisional.

"Produk bawang putih nasional sudah mengalami pergeseran untuk aroma dan cita rasa. Sekarang ini lebih cocok untuk bahan jamu dan obat," imbuh Hasanuddin pada Kamis (19/6).

Penyebabnya, iklim tanah air telah berubah. Jika 16 tahun lalu, iklim lebih dingin sekarang iklim tanah air jauh lebih hangat. Bawang putih dapat tumbuh saat musim salju datang. Kondisi ini yang tidak ada di Indonesia.

Padahal proses vernalisasi atau pembentukan bunga saat musim salju yang membentuk sempurnanya bawang putih. Artinya, tanaman ini harus melewati musim salju dengan suhu ekstrem supaya bisa berproduksi. Meski begitu, sebenarnya bukan tidak mungkin bawang putih bisa diproduksi di Indonesia. Asalkan ditanam di ketinggian 1.000 mdpl (meter diatas permukaan laut).

Tahun ini, kebutuhan bawang putih mencapai 400.000 ton. Sebanyak 95% dipenuhi dari impor dan sisanya dari kebutuhan nasional.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×