kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.880.000   40.000   1,41%
  • USD/IDR 17.163   -11,00   -0,06%
  • IDX 7.559   -34,73   -0,46%
  • KOMPAS100 1.040   -10,36   -0,99%
  • LQ45 744   -12,17   -1,61%
  • ISSI 273   -1,59   -0,58%
  • IDX30 401   -0,83   -0,21%
  • IDXHIDIV20 487   -2,68   -0,55%
  • IDX80 116   -1,41   -1,20%
  • IDXV30 139   0,63   0,45%
  • IDXQ30 128   -0,94   -0,72%

Biaya Material Naik, Margin Proyek Konstruksi Bisa Terkikis Habis


Selasa, 21 April 2026 / 18:37 WIB
Biaya Material Naik, Margin Proyek Konstruksi Bisa Terkikis Habis
ILUSTRASI. Kredit Konstruksi (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Vina Elvira | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Lonjakan harga bahan baku yang dipicu kenaikan harga energi global dan pelemahan rupiah kian menekan industri konstruksi nasional pada 2026. 

Wakil Sekjen III BPP Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi), Errika Ferdinata, mengatakan dampak kenaikan harga material saat ini tergolong signifikan dalam menekan margin proyek konstruksi. 

“Tekanannya sangat signifikan dan memukul langsung arus kas. Margin proyek konstruksi yang rata-rata berada di kisaran 10% hingga 15% bisa tergerus habis, bahkan minus,” ungkap Errika, kepada Kontan, Selasa (21/4/2026).  

Baca Juga: Kemenperin: Kenaikan Harga Solar Berpotensi Geser Preferensi Konsumen Otomotif

Menurut dia, tekanan paling berat dirasakan pada proyek infrastruktur jalan raya yang sangat bergantung pada aspal, komoditas yang mengikuti harga minyak dunia.

Selain itu, konstruksi bangunan tinggi (high-rise building) juga terdampak besar karena tingginya penggunaan baja dan besi beton, serta proyek design and build, terutama yang menggunakan material finishing impor yang sensitif terhadap fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Kondisi ini memaksa kontraktor untuk lebih selektif dalam mengambil proyek baru.Dengan demikian, pelaku usaha konstruksi pun harus mulai mengubah strategi dari beberapa aspek. 

Di sisi kontrak, kontraktor secara proaktif menghindari kontrak Lump Sum berjangka panjang tanpa adanya klausul eskalasi harga (price adjustment).

Selain itu, mereka juga menuntut persentase uang muka yang lebih besar guna melakukan front-loading pembelian material sejak awal proyek. 

“Pemanfaatan Building Information Modeling (BIM) kini menjadi senjata utama. Dengan BIM, perhitungan Bill of Quantities (BQ) menjadi sangat presisi sehingga pemborosan (waste) material fisik di lapangan akibat kesalahan desain atau benturan struktur dapat ditekan hingga nyaris 0%,” tuturnya. 

Gapensi melihat tekanan biaya juga mulai tercermin pada kinerja industri pada kuartal I-2026, di mana sektor konstruksi mengalami perlambatan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pada proyek yang sedang berjalan, progres fisik di lapangan seringkali terhambat atau mengalami rescheduling karena kontraktor harus mengatur ulang ritme cash flow untuk menebus material yang harganya naik tak terduga. 

Baca Juga: Kenaikan Harga Material Tekan Margin Proyek, Adhi Karya (ADHI) Siapkan Mitigasi

“Untuk kontrak baru, terjadi fenomena wait-and-see, terutama dari pasar swasta menengah yang menunda investasi modalnya,” tambah Errika. 

Meski begitu, Gapensi menilai prospek industri hingga akhir 2026 masih menyisakan peluang, meskipun dengan pendekatan yang lebih hati-hati. Pertumbuhan akan bertumpu pada efisiensi operasional dan rekayasa nilai (value engineering). 

“Kontraktor yang masih menggunakan metode konvensional akan sangat kesulitan,” tandasnya. 

Di tengah kondisi ini, pelaku industri berharap adanya dukungan kebijakan dari pemerintah. Salah satunya adalah kejelasan dan implementasi klausul eskalasi harga pada proyek pemerintah dan BUMN.

Selain itu, dukungan dari sektor perbankan berupa penyesuaian suku bunga atau relaksasi kredit konstruksi juga dibutuhkan agar kontraktor memiliki napas panjang dalam menjaga likuiditas.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Apa dampak bagi saya, jika saya...



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×