Reporter: Leni Wandira | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Global Digital Niaga Tbk (BELI) atau Blibli membukukan pendapatan neto konsolidasian sebesar Rp 14,83 triliun pada semester I-2026. Realisasi ini meningkat 55% secara tahunan atau year on year (yoy) dibandingkan Rp 9,59 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Pertumbuhan pendapatan ditopang oleh kontribusi seluruh segmen bisnis, terutama elektronik konsumen, gaya hidup, institusi, dan jaringan toko fisik. Perusahaan juga mencatat pertumbuhan pada nilai transaksi serta perbaikan margin dan efisiensi biaya di tengah kondisi pasar yang masih menantang.
Chief Corporate Officer and Investor Relations Blibli Eric Winarta mengatakan, segmen institusi menjadi salah satu penopang pertumbuhan perusahaan. Kinerja tersebut mencerminkan kepercayaan klien korporasi terhadap kemampuan Blibli memenuhi kebutuhan pengadaan barang melalui portofolio produk yang luas dan dukungan distribusi.
Baca Juga: Bahlil Dorong Hilirisasi, Ekspor Nikel Ditargetkan Tembus US$ 45 Miliar pada 2026
“Pertumbuhan yang tinggi pada segmen institusi ini sebenarnya mencerminkan kepercayaan klien-klien korporat kami atas kemampuan kami dalam memenuhi kebutuhan pengadaan, di mana kami bisa menyediakan portofolio produk yang luas dan didukung juga oleh kemampuan distribusi yang baik,” ujar Eric dalam paparan publik, Rabu (14/10/2026).
Meski demikian, Eric menegaskan bahwa perseroan tidak hanya mengejar pertumbuhan pada segmen institusi, tetapi juga memperhatikan kualitas pertumbuhan. Upaya tersebut dilakukan melalui pengelolaan margin, peningkatan efisiensi operasional, serta pengelolaan modal kerja secara disiplin.
Ke depan, Blibli akan memperkuat hubungan dengan klien institusi sekaligus memperluas solusi dan layanan sesuai kebutuhan masing-masing pelanggan. Perseroan berharap segmen ini terus berkembang dan memberikan kontribusi positif terhadap pencapaian profitabilitas.
Di sisi transaksi, Chief Financial Officer Blibli Ronald Winardi mengungkapkan, total nilai pemrosesan atau total processing value (TPV) perseroan mencapai Rp 45,1 triliun pada semester I-2026. Nilai tersebut tumbuh 12% yoy dibandingkan Rp 40,2 triliun pada semester I-2025.
Pertumbuhan TPV berasal dari sejumlah lini bisnis, yakni ritel pihak pertama atau first-party retail (1P), ritel pihak ketiga atau third-party retail (3P), segmen institusi, dan jaringan toko fisik. Segmen ritel 3P masih menjadi kontributor terbesar dengan porsi 58% terhadap total TPV.
Pada segmen ritel 3P, kategori gaya hidup menyumbang sekitar 69% dari TPV segmen tersebut. Kontribusi ini terutama didorong oleh bisnis agen perjalanan daring atau online travel agent (OTA) melalui tiket.com.
Selain gaya hidup, elektronik konsumen turut mendukung kinerja Blibli, terutama melalui peningkatan penjualan ponsel pintar. Produk olahraga dan bisnis perjalanan daring juga berkontribusi terhadap pendapatan perseroan.
Baca Juga: Astra Otoparts (AUTO) Jajaki Pasar Eropa dan Amerika Latin untuk Ekspor Aki
Ronald menjelaskan, perbaikan kinerja keuangan pada semester pertama tahun ini turut didorong oleh peningkatan pendapatan per transaksi dan margin, serta pengelolaan biaya yang lebih efisien. Hal tersebut ikut memperbaiki kinerja EBITDA perseroan.
Dari sisi monetisasi, take rate Blibli meningkat menjadi 9% pada semester I-2026, dibandingkan 8,6% pada periode yang sama tahun lalu. Peningkatan ini didukung oleh perbaikan take rate pada segmen ritel 1P dan 3P, seiring pertumbuhan laba bruto sebelum diskon atau gross profit before discount(GPBD) sebesar 17% yoy.
Perseroan juga berhasil menekan rasio beban operasional konsolidasian terhadap TPV dari 7,2% pada semester I-2025 menjadi 6,3% pada semester I-2026. Perbaikan tersebut menghasilkan peningkatan rasio EBITDA konsolidasian terhadap TPV sebesar 170 basis poin secara tahunan.
Terkait strategi menuju profitabilitas, Ronald mengatakan Blibli dalam dua tahun terakhir telah melakukan rasionalisasi kategori bisnis omnichannel dengan memprioritaskan area yang memiliki keunggulan kompetitif.
Perusahaan kemudian mendorong pertumbuhan dengan meningkatkan nilai tambah bagi mitra merek dan pelanggan, sekaligus memperkuat kapabilitas omnichannel.
Menurut dia, pertumbuhan pendapatan yang disertai perbaikan margin dan laba bruto, serta peningkatan skala usaha dan operating leverage, membantu menekan kerugian perseroan. Blibli juga terus mendisiplinkan biaya operasional dan memperbaiki keekonomian setiap lini bisnis.
“Kami terus melakukan disiplin untuk biaya-biaya operasional dan selalu memperbaiki unit ekonomi untuk setiap lini bisnis kami. Dengan konsistensi dan disiplin tersebut, kami melihat banyak metrik profitabilitas ini terus membaik,” kata Ronald.
Dalam jangka menengah, yakni tiga hingga lima tahun ke depan, Blibli akan melanjutkan strategi yang menunjukkan tren positif dan mengalokasikan sumber daya pada kategori atau segmen yang mampu memberikan imbal hasil lebih baik.
Sementara itu, Chief Operating Officer sekaligus Co-Founder Blibli Lisa Widodo mengatakan, bisnis FAS berfokus membantu merek dan mitra usaha mengembangkan bisnis sesuai dengan ambisi masing-masing.
FAS mengandalkan tujuh pilar layanan, meliputi pemenuhan pesanan dan logistik, layanan pelanggan, distribusi daring, distribusi luring, solusi bisnis, studio, serta afiliasi.
Lisa menjelaskan, layanan tersebut ditujukan untuk mendukung operasional dan distribusi mitra, termasuk melalui solusi teknologi seperti Internet of Things (IoT) dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Kemampuan produksi konten dan pengelolaan afiliasi juga menjadi bagian penting dalam mendukung penjualan mitra.
Ke depan, FAS diharapkan menjadi sumber pertumbuhan tambahan bagi ekosistem Blibli dan tiket.com. Bisnis ini juga berpotensi meningkatkan utilisasi infrastruktur yang telah dibangun, memperkuat efisiensi rantai pasok, serta menciptakan pendapatan dari layanan bernilai tambah.
Untuk mendukung ekspansi kapabilitas omnichannel, hingga semester I-2026 Blibli mengoperasikan 347 toko elektronik konsumen, 24 toko elektronik rumah tangga, dan satu toko fesyen dan olahraga. Perusahaan juga mengelola 60 gerai supermarket premium serta 39 home and living experience centers.
Baca Juga: Kendala Pasokan Lagi, FKBI Minta Disparitas Harga BBM Subsidi & Non Subsidi Dipangkas
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














