kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.641.000   -14.000   -0,53%
  • USD/IDR 18.035   45,00   0,25%
  • IDX 5.873   -113,12   -1,89%
  • KOMPAS100 763   -18,32   -2,34%
  • LQ45 583   -12,03   -2,02%
  • ISSI 203   -3,37   -1,63%
  • IDX30 330   -6,18   -1,83%
  • IDXHIDIV20 410   -5,48   -1,32%
  • IDX80 87   -1,95   -2,19%
  • IDXV30 111   -1,67   -1,48%
  • IDXQ30 107   -1,52   -1,40%

Colliers: Industri Hotel Diversifikasi Pendapatan, Tak Lagi Andalkan Pasar Pemerintah


Rabu, 08 Juli 2026 / 15:54 WIB
Colliers: Industri Hotel Diversifikasi Pendapatan, Tak Lagi Andalkan Pasar Pemerintah
ILUSTRASI. Hotel di Jakarta dan Bali tak lagi kejar okupansi. Pendapatan kini fokus pada kualitas tamu dan strategi diversifikasi.  (Dok/Delonix Group)


Penulis: Chelsea Anastasia | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Colliers Indonesia mencermati industri hotel, terutama di Jakarta dan Bali, mulai mengurangi ketergantungan terhadap pasar pemerintah hingga kuartal II-2026.

Pelaku industri kini diproyeksi berupaya mendiversifikasi sumber pendapatan, seiring berkurangnya aktivitas pemerintah terutama pada segmen meeting, incentive, convention, and exhibition (MICE).

Kepala Departemen Riset Colliers Indonesia Ferry Salanto menjelaskan, pihaknya mencermati bahwa saat ini keberhasilan hotel tak ditentukan oleh tingkat okupansi, tetapi daya beli dan kualitas pendapatan dari tamu hotel.

Baca Juga: Kemenhub Kebut Reaktivasi Bandara Husein, INACA: 9 Maskapai Siap Jajaki Operasional

"Jadi kalau kita lihat secara umum memang hotel di Jakarta dan Bali ini lagi bergeser dari yang tadinya volume driven hospitality, sekarang menuju value driven hospitality," ujarnya dalam Colliers Virtual Media Briefing Q2 2026, Rabu (8/7/2026).

Menurutnya, kondisi tersebut mendorong hotel untuk tidak lagi hanya mengandalkan pendapatan dari penjualan kamar. Hotel kini mengoptimalkan berbagai sumber pendapatan lain, seperti restoran, spa, wellness, hingga pengalaman (experience) yang ditawarkan kepada tamu.

Ferry menyebut, di Jakarta, penurunan aktivitas MICE pemerintah mulai diimbangi oleh pertumbuhan permintaan dari segmen korporasi, staycation, pernikahan, konser, dan berbagai kegiatan sosial lainnya.

Sementara itu, di Bali, strategi pelaku industri juga dinilai mulai bergeser. Alih-alih mengejar jumlah wisatawan yang menginap, Colliers mencermati hotel lebih berfokus mendorong wisatawan untuk tinggal lebih lama agar nilai belanja selama menginap meningkat.

"Di Bali, yang dicari bukan lagi sebanyak mungkin tamu atau wisatawan menginap, tapi bagaimana caranya wisatawan bisa tinggal (stay) lebih lama," jelas Ferry.

Baca Juga: Bidik Pertumbuhan Biofarmasi ASEAN, NBF Perkuat Kapasitas CDMO, Investasi US$ 80 Juta

Di sisi investasi, Colliers menilai investasi hotel premium masih menjadi pilihan utama pengembang. Hal itu tercermin dari pasokan hotel yang didominasi pembangunan hotel bintang lima, baik di Jakarta maupun Bali.

Berdasarkan riset Colliers, sekitar 52,3% pasokan kamar hotel yang akan masuk ke pasar di Jakarta sepanjang 2026-2029 merupakan hotel bintang lima. Sementara di Bali porsinya jauh lebih besar, mencapai 91,6%, sehingga menunjukkan minat investor terhadap segmen luxury masih sangat kuat.

Dari sisi lokasi, pembangunan hotel di Jakarta terkonsentrasi di kawasan CBD dengan porsi 47,5% dari total pipeline. Adapun di Bali, proyek hotel baru banyak berkembang di kawasan Seminyak–Canggu yang mencapai 43,1%, disusul Ubud sebesar 31,6%.

Hingga kuartal II-2026, total stok kamar hotel di Bali mencapai sekitar 62.000 kamar, sedangkan Jakarta sekitar 48.500 kamar.

Ke depan, Colliers memperkirakan pasokan hotel masih akan bertambah sekitar 1.700 kamar di Bali dan 1.696 di Jakarta hingga 2029.

"Jadi kami lihat indikator keberhasilan hotel ke depan itu tidak hanya dari average occupancy rate, tapi juga kualitas pendapatan yang dihasilkan dari setiap tamu," tandas Ferry.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×