Reporter: Leni Wandira | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Ciputra Development Tbk (CTRA) menilai prospek bisnis pusat perbelanjaan pada 2026 cenderung stabil, seiring terbatasnya pasokan mal baru, khususnya di wilayah Jakarta.
Kondisi tersebut dinilai dapat menopang tingkat hunian (okupansi) serta menjaga kinerja aset ritel yang telah beroperasi.
Direktur CTRA Harun Hajadi mengatakan, pengembangan mal merupakan investasi dengan risiko tinggi karena harus mampu menarik dua segmen sekaligus, yakni tenant dan pengunjung. Oleh karena itu, perseroan masih bersikap selektif dalam melakukan ekspansi.
Baca Juga: Perluas Penetrasi Pasar di Jawa Timur, Linktown Relokasi Kantor Surabaya
“Pengembangan mal risikonya besar. Harus benar-benar yakin sebelum membangun, karena customer-nya ada dua, tenant dan pengunjung. Sampai saat ini kami belum memiliki rencana pengembangan mal baru karena belum menemukan peluang yang tepat,” ujar Harun kepada Kontan.co.id, Jumat (6/2/2026).
Ia menambahkan, porsi bisnis mal dalam portofolio CTRA relatif kecil dibandingkan lini usaha utama perseroan di sektor perumahan.
Dengan struktur tersebut, strategi perusahaan saat ini lebih difokuskan pada optimalisasi aset ritel yang sudah ada, ketimbang membangun pusat perbelanjaan baru.
Berdasarkan data Colliers Indonesia, tingkat okupansi rata-rata mal di Jakarta mencapai sekitar 75% sepanjang 2025, dengan tambahan pasokan baru yang terbatas.
Baca Juga: DHL Express Gandeng Machine56, Perluas Strategi Brand Lewat Kolaborasi Fashion
Menurut Harun, kondisi ini membuat persaingan antar-tenant semakin ketat dan berpotensi mendorong penguatan permintaan sewa di mal yang telah memiliki basis pengunjung yang kuat.
Di sisi lain, pergeseran suplai baru ke kawasan Bodetabek juga menjadi pertimbangan bagi CTRA untuk tidak agresif berekspansi.
Harun menilai, pembangunan mal di area tangkapan pasar (catchment area) baru berisiko menurunkan minat tenant karena berpotensi mengkanibal gerai yang sudah ada.
“Kalau dibangun di catchment area baru, tenant biasanya kurang tertarik karena bisa mengkanibal toko mereka yang sudah ada,” katanya.
Di tengah perubahan pola belanja konsumen dan meningkatnya persaingan dengan kanal digital, CTRA menilai tenant yang bergerak di kebutuhan harian serta aktivitas berbasis pengalaman (experience-based) masih menjadi penopang utama kinerja mal. Faktor musiman juga tetap menjadi pendorong trafik pengunjung.
Harun menyebut, tenant ritel umumnya mencatat puncak penjualan dua kali dalam setahun, yakni pada periode libur Lebaran dan libur akhir tahun.
Baca Juga: Indomobil eMotor Tancap Gas Garap Pasar Motor Listrik Lewat QT Series
“Tenant biasanya panen dua kali setahun, saat Lebaran dan libur akhir tahun. Untuk pemilu sendiri, tidak ada pengaruh signifikan terhadap kinerja mal,” ujarnya.
Dari sisi tantangan, perseroan mencermati adanya tekanan biaya operasional serta sensitivitas daya beli konsumen.
Meski demikian, terbatasnya pasokan mal baru dan pemulihan aktivitas konsumsi dinilai masih membuka ruang pertumbuhan moderat bagi segmen ritel CTRA pada 2026.
Dari sisi kinerja keuangan, hingga sembilan bulan pertama 2025, CTRA mencatat laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp1,62 triliun, tumbuh 27,55% secara tahunan (year on year/YoY) dibandingkan Rp1,27 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pendapatan usaha perseroan mencapai Rp8,39 triliun per September 2025, meningkat 18% YoY dari Rp7,11 triliun.
Laba kotor naik 17,54% menjadi Rp4,02 triliun, sementara laba usaha tumbuh menjadi Rp2,49 triliun dari sebelumnya Rp2,05 triliun.
Selanjutnya: Penyaluran Pinjaman Lembaga Keuangan Mikro (LKM) Rp 960 Miliar per Akhir 2025
Menarik Dibaca: Harga Emas Global Menguji Naik Setelah Tumbang 3,7% Kemarin
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













