kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.553   53,00   0,30%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Curah hujan masih tinggi, produksi garam bisa terpangkas 20%


Jumat, 08 April 2011 / 13:17 WIB
ILUSTRASI. Awan gelap menyelimuti langit di salah satu kawasan di Jakarta, Rabu (11/12/2019).


Reporter: Evilin Falanta |

JAKARTA. Panen garam nasional tahun ini dikhawatirkan mengalami penurunan. Pasalnya, hingga saat ini curah hujan masih tinggi sehingga membuat keadaan tanah menjadi lebih dingin. Hal ini jelas tidak menguntungkan para petani garam.

"Kita belum memasuki masa panen jadi belum tahu hasilnya seberapa besar. Tapi, melihat keadaan iklim yang terus hujan saya pesimis panen tahun ini tak akan lancar," kata Faisal Baidowi Anggota Presidium Aliansi Asosiasi Petani Garam Indonesia (A2PGRTI).

Faisal bilang hingga bulan keempat dan kelima ini, hujan masih turun di daerah pesisir pantai. Padahal, petani jelas mengharapkan di bulan ini sudah memasuki musim kemarau.

"Jika masuk bulan ketujuh nanti cuaca masih tak mendukung, maka produksi garam bisa turun 20%. Tapi, kalau keadaan kembali normal kemungkinan hanya turun 10% saja dari total produksi tahun lalu," jelasnya.

Pada tahun 2010 total produksi garam nasional mencapai 1,2 juta ton. Sedangkan tahun ini para petani belum bisa menargetkan jumlah produksi garam, mereka masih menunggu hasil panennya nanti.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×