kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.577.000   7.000   0,27%
  • USD/IDR 16.859   41,00   0,24%
  • IDX 8.960   34,76   0,39%
  • KOMPAS100 1.233   5,49   0,45%
  • LQ45 871   3,42   0,39%
  • ISSI 325   1,71   0,53%
  • IDX30 441   0,40   0,09%
  • IDXHIDIV20 520   0,96   0,18%
  • IDX80 137   0,65   0,48%
  • IDXV30 144   0,49   0,34%
  • IDXQ30 141   -0,06   -0,04%

Dahlan izinkan Wika dan PT Garam bekerja sama


Selasa, 08 Januari 2013 / 12:29 WIB
Dahlan izinkan Wika dan PT Garam bekerja sama
ILUSTRASI. Konsumsi Makanan Ini Untuk Meredakan Nyeri Tulang Dan Otot


Reporter: Asnil Bambani Amri | Editor: Asnil Amri

JAKARTA. Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Dahlan Iskan mengizinkan PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) dan PT Garam Indonesia bekerja sama membangun pabrik beton. Hal itu untuk meningkatkan sinergi antar-perusahaan BUMN.

"WIKA akan memanfaatkan lahan di Gresik seluas 280 hektare (ha) milik PT Garam untuk digunakan jadi pabrik beton dan industri listrik," kata Dahlan selepas rapat pimpinan di kantor Wijaya Karya, Cawang, Jakarta, Selasa (8/1).

Menurut Dahlan, selama ini lokasi pabrik beton milik WIKA di seluruh Indonesia sudah penuh dan tidak bisa dikembangkan lagi. Apalagi, pabriknya di Pasuruan, Jawa Timur, hanya memiliki luas 10 hektare.

Padahal, kebutuhan beton di Tanah Air ini terus meningkat seiring dengan pesatnya industri konstruksi di Tanah Air. "Nanti WIKA bisa sekalian membangun pelabuhan di sekitar Gresik daripada harus mengangkut beton ke pelabuhan lain, (Tanjung Perak), kan jauh," katanya.

Menurut Dahlan, keinginan menyatukan kerja sama operasi antara WIKA dan PT Garam ini karena PT Garam dinilai tidak produktif memanfaatkan lahannya. Di lahan tadi, PT Garam juga tidak bisa memproduksi garam secara besar.

Terkait mekanismenya, Dahlan akan menyerahkan sepenuhnya kepada dua perusahaan tadi. "Terserah saja, itu, kan, cuma menyediakan lahan. Kalau mau ada bagi hasil, ya, terserah," katanya.

Saat ini, kapasitas produksi beton milik WIKA di Jawa Timur sebanyak 200.000 ton per tahun. Dengan pabrik baru, produksi ini akan ditingkatkan menjadi dua kali lipat. (Didik Purwanto/Kompas.com)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×