kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.920.000   30.000   1,04%
  • USD/IDR 16.900   45,00   0,27%
  • IDX 7.935   -168,62   -2,08%
  • KOMPAS100 1.117   -23,38   -2,05%
  • LQ45 816   -13,78   -1,66%
  • ISSI 278   -6,99   -2,45%
  • IDX30 426   -6,36   -1,47%
  • IDXHIDIV20 515   -6,10   -1,17%
  • IDX80 125   -2,26   -1,78%
  • IDXV30 139   -2,98   -2,10%
  • IDXQ30 139   -1,10   -0,79%

Defisit gas ancam Indonesia di 2020


Sabtu, 27 Desember 2014 / 00:23 WIB
Defisit gas ancam Indonesia di 2020
ILUSTRASI. Booth LinkAja pada pameran BUMN Startup Day 2022 di ICE BSD City, Tangerang.


Reporter: Pratama Guitarra | Editor: Yudho Winarto

JAKARTA. Dewan Energi Nasioanal (DEN) memperkirakan Indonesia bakal mengimpor gas tahun 2020 mendatang. Prediksi itu bakal terealisasi lantaran tata kelola gas bumi yang buruk, terutama jika sistem kontrak penjualan gas jangka panjang untuk ekspor tidak segera diubah.

Anggota DEN, Rinaldy Dalimin Rabu (24/12) menilai, saat ini ekspor gas Indonesia terlalu besar yakni mencapai 55% dari total produksi di dalam negeri. Ekspor tersebut dilakukan melalui, kontrak kerja sama dengan kontraktor Jepang dan Singapura.

Padahal saat ini kebutuhan gas di dalam negeri semakin bertambah banyak. Makanya, Jika tidak ada penambahan dari penemuan ladang gas baru, diperkirakan Indonesia terpaksa impor gas. Untuk itu, ia menyarankan pemerintah mengupayakan agar kebutuhan pasokan gas nasional tercukupi. "Caranya renegosiasi kontrak dan eksplorasi lapangan gas baru," terang dia.

Renegosiasi kontrak yang sudah pernah berhasil dilakukan pada era Jero Wacik dalam ekspor LNG Tangguh ke Fujian, China. Rinaldy mengingatkan, pengurangan ekspor gas sebenarnya sudah masuk dalam Kebijakan Energi Nasional (KEN).

Dalam kebijakan tersebut pemerintah Indonesia harus memangkas ekspor gas secara bertahap, hingga pada saatnya nanti menghentikan sama sekali. "Terserah kapan, tetapi ekspor gas secara bertahap harus dihentikan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan menjadi cadangan nasional," ujarnya.

Sebelumnya, Kepala Humas SKK Migas Rudianto Riambono menyatakan, saat ini Indonesia tengah berupaya mempercepat proyek gas dalam skala besar seperti Blok Muara Bakau yang dikelola ENI Indonesia. Blok ini siap memproduksi gas pada 2017.

Lalu Blok Masela yang siap produksi 2018. "SKK Migas selalu penambah porsi penjualan domestik gas tiap tahun. Tahun ini 52%, tahun depan 60%," imbuhnya," katanya. Sampai Oktober 2014, produksi gas secara nasional sudah 7,085 miliar British thermal unit per hari (BBTUD).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×