kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   -20.000   -0,70%
  • USD/IDR 17.500   -30,00   -0,17%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Defisit perdagangan terbesar disumbang oleh China


Selasa, 27 Agustus 2013 / 12:49 WIB
ILUSTRASI. Didukung RAM Hingga 12GB, Ini Spesifikasi dan Harga HP Samsung A23 di Indonesia


Reporter: Adhitya Himawan | Editor: Dikky Setiawan

JAKARTA. Direktur Jenderal Kerjasama Industri Internasional Kementerian Perindustrian, Agus Tjahajana Wirakusumah menegaskan, neraca perdagangan Indonesia di sektor produk industri saat ini berada dalam kondisi berat.

Menurut Agus, kondisi ini disebabkan laju ekspor lebih kecil daripada impor. "Saya tidak tahu kondisi ini sampai kapan. Yang penting tingginya laju impor jangan terjadi di produk-produk konsumtif," kata Agus saat dijumpai KONTAN di Hotel Gran Melia, Jakarta, Selasa (27/8).

Menurut Agus, apabila tingginya laju impor terjadi pada bahan baku, hal ini tak menjadi masalah karena akan diproses lebih lanjut.

Agus mengakui, neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit terbesar dengan China. Saat ini selisih dengan Cina sebesar minus 17%. "Selain itu kita juga minus dengan Jepang dan Korea Selatan meski tak sebesar dengan China," kata Agus.

Oleh sebab itu, Agus mengatakan, tak ada jalan lain selain meningkatkan daya saing dengan mendorong hilirisasi produk dan diversifikasi pasar tujuan ekspor. "Inilah yang harus dilakukan agar Indonesia bisa mencapai titik keseimbangan dengan negara-negara itu," pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×