kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45770,96   1,15   0.15%
  • EMAS930.000 0,22%
  • RD.SAHAM -0.09%
  • RD.CAMPURAN -0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.02%

Dekarindo: Tidak semudah itu mencari alternatif pasar ekspor karet


Jumat, 03 April 2020 / 19:17 WIB
Dekarindo: Tidak semudah itu mencari alternatif pasar ekspor karet
ILUSTRASI. Pekerja menyadap pohon karet di area perkebunan karet milik PT Perkebunan Nusantara IX di Tuntang, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Selasa (18/6/2019). Pemerintah menargetkan produksi karet pada tahun 2019 mencapai 3,81 juta ton atau naik 3,5 persen dari

Reporter: Arfyana Citra Rahayu | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dewan Karet Indonesia (Dekarindo) mengkritisi upaya Kementerian Pertanian mengkaji alternatif pasar ekspor komoditas perkebunan untuk menghalau penurunan penjualan ke China akibat Covid-19.

Ketua Dewan Karet Indonesia (Dekarindo) Aziz Pane menjelaskan tidak semudah itu bisa mengalihkan pasar ekspor ke negara lain. "Biasanya komoditas traditional market memerlukan waktu lama untuk masuk dan berbisnis di negara lain," jelasnya kepada Kontan.co.id, Jumat (3/4).

Baca Juga: Kementan siapkan strategi untuk dorong ekspor komoditas pertanian di luar China

Aziz mencontohkan kalau komoditas karet mau masuk ke pabrik ban tentu perlu waktu untuk mengetes kualitas karet tersebut. "Sehingga tidak bisa dipindahkan ke alternatif pasar begitu saja," ujarnya.

Aziz menilai Indonesia sudah terlampau lama bergantung pada pasar Amerika, China, Jepang, dan Korea. Sedangkan ada prospek dari negara lain seperti Turki yang punya pabrik ban tapi sayangnya tidak pernah digarap. Akhirnya Turki mengambil karet dari Afrika.

Industri karet tengah berkontraksi saat mewabahnya Corona. Aziz mengungkapkan banyak hasil karet yang tidak terserap sehingga stok karet menjadi banyak dan tentu saja akan memakan biaya. "Makanya sudah ada anggota yang mau rumahkan karyawan di awal bulan Maret kemarin," ungkapnya.

Azis buka-bukaan soal keadaan industri karet saat ini. Katanya perusahaan karet tertekan karena penyerapan karet yang tertahan dan utilisasi rendah akibat penyakit gugur daun masih menjangkit kebun karet dalam negeri.

Baca Juga: Permintaan kopi masih kuat, industri keluhkan hambatan logistik akibat virus corona

Selain itu kapasitas pabrik yang rendah juga disebabkan banyak pemilik kebun karet mengganti tanaman mereka menjadi komoditas yang lebih menguntungkan seperti sawit atau singkong karena harga karet yang jeblok.

Aziz menyatakan selama ini sudah ada ancaman penurunan supply karet dan hal ini sudah dibicarakan dengan Kamar Dagang Indonesia (Kadin).

Selain itu Dekarindo juga telah mengirimkan surat ke pemangku kebijakan perihal banyak pelaku industri karet yang mengeluh karena impor karet masih besar.

"Jadi kalau tidak ada satu kesatuan dan bahasa untuk memperjuangkan hilirisasi karet, bisa saja industrinya tidak bisa survive," kata Aziz.

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.


TERBARU

[X]
×