kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.764.000   -5.000   -0,18%
  • USD/IDR 17.695   109,00   0,62%
  • IDX 6.470   -252,97   -3,76%
  • KOMPAS100 859   -34,67   -3,88%
  • LQ45 638   -20,11   -3,06%
  • ISSI 234   -8,67   -3,57%
  • IDX30 362   -9,19   -2,48%
  • IDXHIDIV20 447   -8,29   -1,82%
  • IDX80 98   -3,68   -3,61%
  • IDXV30 127   -2,61   -2,01%
  • IDXQ30 117   -2,43   -2,04%

Demand anjlok karena corona, BPH Migas verifikasi volume gas angkutan dan niaga


Senin, 08 Juni 2020 / 16:12 WIB
ILUSTRASI. Petugas menyiapkan Meter Regulator Station (MRS) untuk penyaluran gas. ANTARA FOTO/Moch Asim/aww.


Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Handoyo

Menurut Jugi, data dari badan usaha angkutan dan niaga, Pertagas Group sebagai transporter gas, serta PGN di Kabupaten dan Kota Bekasi yang menjadi tulang punggung industri, mampu menggambarkan secara riil penurunan demand gas selama masa pandemi.

"Volume gas yang diangkut turun drastis. Area Bekasi itu backbone, bisa menjadi acuan untuk area lainnya. Pertagas adalah transporter yang mengangkut gas para shipper. Sehingga data tersebut dapat menggambarkan keadaan pasar yang lebih riil," jelas Jugi.

Dirinya pun berharap, covid-19 bisa segera tertangani dan serapan gas kembali menanjak. Dengan begitu, volume gas yang akan dialirkan bisa lebih banyak sehingga lebih efisien secara biaya. "Saat pandemi covid berakhir, mudah-mudahan demand-nya normal, menyerap gas lagi. Nanti gas mengalir semakin banyak, artinya timbul efisiensi," harap Jugi.

Baca Juga: Pebisnis Migas Juga Perlu Insentif Corona

Dihubungi terpisah, Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa menyampaikan sebagai salah satu segmen penyerap gas terbesar, penurunan demand gas untuk listrik menjadi hal yang wajar. Seiring dengan konsumsi listrik yang merosot, penggunaan pembangkit peaker yang berbahan bakar gas juga menurun.

Dalam penurunan beban puncak sekitar 2 GigaWatt (GW) hingga 3 GW, maka penurunan konsumsi gas diestimasikan mencapai 20%-25%. "Karena beban puncak turun 2 GW-3 GW, jadi operasi pembangkit peaker yang memakai gas juga turun, estimasinya kebutuhan gas turun 20%-25%," sebut Fabby.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×