Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah berambisi mencapai target Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan kapasitas 100 Gigawatt peak (GWp). Proyek ini membuka peluang bagi perusahaan yang bergerak di ekosistem energi surya, tak terkecuali bagi PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA).
Presiden Prabowo Subianto telah resmi meluncurkan Program PLTS 100 GWp pada Selasa (25/8/2026) pekan lalu. Pemerintah menghitung total kebutuhan investasi untuk merealisasikan Program PLTS 100 GWp mencapai sekitar US$ 71,3 miliar atau setara dengan Rp 1.140 triliun.
Pada tahap pertama, pemerintah meluncurkan 14 proyek PLTS di enam provinsi dengan total kapasitas sekitar 5,3 GWp. Kebutuhan investasi untuk proyek tahap awal ini mencapai sekitar US$ 7,7 miliar atau setara dengan Rp 135 triliun. Dari 14 proyek tersebut, enam proyek dinyatakan siap tender dengan total kapasitas 4,54 GWp.
Baca Juga: Genap Berusia 50 Tahun, Bridgestone Indonesia Fokus Perkuat Manufaktur Lokal
Wakil Presiden Direktur Dian Swastatika Sentosa, Lokita Prasetya menyambut peluncuran program tersebut. DSSA siap menggali peluang ekspansi dari Program PLTS 100 GWp, terutama melalui PT Trina Mas Agra Indonesia (TMAI), entitas usaha yang bergerak di bidang manufaktur modul - panel surya.
"DSSA menyambut positif peluncuran resmi Program PLTS 100 GWp dan memandangnya sebagai momentum strategis untuk berkontribusi lebih besar dalam transisi energi nasional. Optimisme ini didukung oleh posisi DSSA yang memiliki kesiapan menyeluruh di sektor energi surya, mulai dari potensi pengembangan proyek PLTS hingga dukungan manufaktur modul surya," kata Lokita kepada Kontan.co.id, Senin (31/8/2026).
Lokita mengatakan bahwa TMAI turut dilibatkan dalam pembahasan proyek awal berkapasitas 4,5 GW, dan menyatakan kesiapan penuh untuk mendukung proyek strategis pemerintah tersebut. "Diskusi awal pun sudah berjalan," imbuh Lokita yang juga menjabat sebagai Wakil Presiden Direktur TMAI.
Saat ini TMAI mengoperasikan fasilitas produksi panel surya di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kendal, Jawa Tengah. Pabrik dengan nilai investasi lebih dari Rp 1,5 triliun tersebut resmi beroperasi pada Juni 2025.
Pabrik TMAI mengadopsi teknologi N-type i-TOPCon Advanced, dengan memiliki Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) hingga 60% untuk memenuhi kualifikasi utama proyek infrastruktur strategis nasional. TMAI memproduksi solar cell dan solar module dengan kapasitas produksi masing-masing sebesar 1 GW per tahun.
"DSSA berharap Program PLTS 100 GWp dapat memaksimalkan komponen produksi dalam negeri dan memanfaatkan sepenuhnya potensi yang dimiliki, sejalan dengan upaya penguatan ekosistem industri dalam negeri, ketahanan energi nasional, percepatan transisi energi, serta peningkatan penyerapan tenaga kerja dalam negeri," kata Lokita.
Menurut Lokita, DSSA melihat Program PLTS 100 GWp sebagai peluang jangka panjang yang terbuka lebar. Pilar usaha grup Sinar Mas di sektor energi dan infrastruktur ini siap berpartisipasi secara aktif baik sebagai calon pengembang PLTS maupun sebagai pemasok modul surya melalui TMAI.
Baca Juga: PTPP Raih Kontrak Rp 970 Miliar, Garap Jalan Hauling Batubara Stage III di Sumsel
Apabila kebutuhan pasar terus tumbuh, Lokita menyatakan bahwa TMAI masih memiliki ruang ekspansi untuk meningkatkan kapasitas produksi hingga menjadi 2 GW. "Dengan kapasitas produksi TMAI sebesar 1 GW yang dapat dikembangkan hingga 2 GW dalam waktu singkat, DSSA optimis dapat memberikan dukungan nyata, baik pada tahap lelang pertama maupun pada tender-tender lanjutan yang akan dibuka berikutnya dari Program PLTS 100 GWp secara keseluruhan," tegas Lokita.
Sekadar mengingatkan, TMAI merupakan perusahaan patungan antara PT Daya Sukses Makmur Selaras selaku anak usaha DSSA, Trina Solar Co. Ltd, serta PT PLN Indonesia Power Renewables. Selain melalui TMAI, DSSA juga menggarap bisnis energi surya lewat PT Daya Mas Agra Sejahtera, yang menawarkan sistem tenaga surya atap untuk sektor industri dan komersial dengan merek Dian Solar.
"Komitmen DSSA adalah menjadi mitra strategis yang konsisten sepanjang perjalanan program, mendukung kesiapan pasokan modul surya dalam negeri sekaligus terbuka mengeksplorasi peluang pengembangan proyek PLTS secara berkelanjutan," tandas Lokita.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














