kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.837.000   0   0,00%
  • USD/IDR 16.991   62,00   0,37%
  • IDX 7.097   -67,03   -0,94%
  • KOMPAS100 977   -12,33   -1,25%
  • LQ45 719   -12,76   -1,74%
  • ISSI 250   -1,82   -0,73%
  • IDX30 391   -7,50   -1,88%
  • IDXHIDIV20 489   -9,60   -1,93%
  • IDX80 110   -1,54   -1,38%
  • IDXV30 134   -2,11   -1,54%
  • IDXQ30 128   -2,18   -1,68%

Efek Konflik Timur Tengah, Pengusaha Tekstil Pilih Sikap Waspada di Kuartal II-2026


Minggu, 29 Maret 2026 / 12:29 WIB
Efek Konflik Timur Tengah, Pengusaha Tekstil Pilih Sikap Waspada di Kuartal II-2026
ILUSTRASI. Pabrik tekstil dan produk tekstil (TPT) (Istimewa/dok)


Reporter: Chelsea Anastasia | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) mengambil sikap waspada dalam menyambut kuartal II-2026. Kenaikan biaya logistik yang dipicu konflik Timur Tengah menjadi salah satu pemicunya.

Government Relation Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), Geraldi Halomoan mengatakan, selama ini, biaya logistik menjadi salah satu kunci yang dicermati para pengusaha tekstil guna mengukur daya saing dan daya tahan industri.

"Maka, dengan biaya logistik meningkat, ditambah dengan harga bahan bakar minyak (BBM) yang naik, industri TPT semakin waspada," ujarnya kepada Kontan, Rabu (25/3/2026).

Baca Juga: Pemerintah Siapkan Aturan 1 Hari WFH dalam Sepekan, KAI: Layanan Tetap Optimal

Pasalnya, bagi industri TPT, kenaikan biaya logistik dapat turut mengerek peningkatan biaya produksi, terutama pada komponen energi dan distribusi. Akibatnya, daya saing ekspor menurut Geraldi juga bakal tertekan karena ongkos pengiriman mahal di tengah persaingan global yang ketat.

Padahal, tekanan produk impor di pasar domestik saja disebut masih menjadi tantangan bagi industri hingga saat ini. Selain itu, ia menilai industri masih dibayangi perlambatan permintaan global, oversupply dari negara produsen besar, hingga praktik dumping dan dugaan manipulasi aturan asal barang (rules of origin).

Untuk menghadapi sejumlah tantangan ini di kuartal II-2026, ia bilang industri TPT tengah meningkatkan efisiensi biaya, optimalisasi energi, serta diversifikasi pasar ekspor.

"Industri juga berupaya meningkatkan nilai tambah produk, termasuk mulai beralih ke produk tekstil teknis (technical textile) dan berkelanjutan," imbuh Geraldi.

Pada kuartal kedua ini, ia memperkirakan permintaan industri kecil menengah (IKM) tekstil masih masih bergulat pada produk jadi (common product) yang umum dipakai. "Jika tidak ada perlindungan pasar dari persaingan dagang yang tidak adil, IKM tekstil cenderung akan turun," ungkapnya.

Di lain sisi, ia menilai meski di tengah tantangan global, industri TPT yang berfokus pada ekspor masih bisa bertahan, serta memiliki peluang di pasar non-tradisional dan produk bernilai tambah. Walaupun, industri tetap mengharapkan adanya dukungan pemerintah.

"Untuk pasar tradisional seperti Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa, perlu dukungan dari pemerintah. Misalnya, untuk pasar Uni Eropa, berupa kemudahan untuk mendapatkan energi terbarukan untuk pasar Uni Eropa. Serta, insentif seperti penangguhan PPh & PPN untuk impor kapas dari AS," jelas Geraldi.

Baca Juga: Jasa Marga Catat 2,5 Juta Kendaraan Kembali ke Jabotabek, Baru 75% dari Proyeksi

Secara umum, tambah Geraldi, industri TPT menantikan dukungan pemerintah melalui pengendalian impor yang efektif, penegakan perdagangan yang adil, insentif energi/logistik, penguatan industri hulu, serta dukungan investasi teknologi. Dengan begitu, dampak eskalasi konflik global tak akan menekan industri lebih dalam.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU

[X]
×